Selasa, 13 September 2011

Menyusuri Jejak Hidup SBY di Pacitan


PACITAN (KRjogja.com) - Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur menyimpan beragam potensi wisata mulai wisata alam hingga rumah masa kecil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kelurahan Polso dan menjadi ikon pariwisata setempat.

Bangunan rumah baik dari segi konstruksi maupun interior sengaja tidak diubah dan tetap dipertahankan seperti bentuk asli. Rumah tersebut sempat menjadi tempat tinggal presiden SBY semasa sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA. Pemilik rumah ini merupakan kakak kandung dari ayah presiden SBY.

Sebelumnya, rumah SBY masa kecil ini tidak pernah dikunjungi oleh banyak orang. Namun setelah diangkat menjadi presiden, wisatawan dan pejabat pun banyak yang sengaja bertandang. Sebagian besar mengaku ingin mengetahui cerita masa kecil SBY di rumah tersebut.

Memasuki ruangan utama rumah,disajikan rangkaian foto perjalanan karier presiden SBY beserta kegiatannya dengan berbagai orang. Kita juga dapat melihat kamar tidur SBY di masa kecil, ruang perkumpulan keluarga hingga nuansa interior yang masih kental dengan suasana masa lalu.

"Memang sengaja tidak diubahagar menjadi tempat kangenan bagi SBY. Kita hanya tambahkan pajangan foto-foto SBY saja agar orang bisa melihat-lihat ketika datang, Untuk mengunjungi rumah masa kecil SBY ini, tidak perlu mengeluarkan biaya karena gratis," kata Hj. Wati yang merupakan budhe dari Ketua Pembina Partai Demokrat ini. (Ran)
Berita terkait :

Presiden Terima PM Vietnam
DPD Minta Presiden Pecat Menteri Korup
Soal Ambon, Presiden Minta Menkopolhukam Jelaskan
Ultah SBY, Dokter Gigi Cukur Gundul
Ultah, SBY Ingin Pimpin RI Lebih Baik

Minggu, 19 Juni 2011/ kr jogja

Icip-Icip Tongseng Balung Ayam Pak Suradal

TONGSENG sudah akrab di lidah masyarakat yang berbahan baku daging. Namun, di tangan Pak Suradal, balungan ayam bisa menjadi kuliner istimewa. Tak heran pembeli tetap memadati warungnya di Pasar Demangan, Kota Yogyakarta.

"Dulu, pengunjung suka mencari nasi goreng namun saat ini mencari tongseng balungan. Cara memasaknya sama seperti aneka olahan tongseng lainnya. Saya meracik dengan bumbu sendiri sehingga rasa kaldu ayamnya lebih terasa dengan pilihan tongseng kering, basah atau nyemek," kata Suradal kepada KRjogja.com.

Menurut Suradal untuk balungan kering, air kaldu hanya sedikit namun porsi bumbu lainnya lebih banyak. Sedangkan banyak, maka kaldu lebih banyak dan nyemek aroma kaldu lebih nendang. Bahkan, mampu meresap sampai ke balungnya. Tak heran, Suradal mampu membuka cabdang di depan Museum Affandi Jalan Solo yang buka mulau Pukul 17.00 - dinihari

Suradal mengaku tak sengaja menemukan resep masakan lezat ini. Saat itu, melihat tulang ayam terbuang sia-sia lantas diolah menjadi tongseng. Awalnya hanya beberapa pelanggannya mencoba masakan ini namun akhirnya mampu menjadi pilihan istimewa sampai sat ini.

"Daging yang paling enak itu menempel di tulang dan menjadi salah satu sensasi menikmati tongseng. Ternyata, disukai para pembeli sehingga harus memasok tulang lebih banyak," ujarnya.

Kendati demikian, Suradal menjelaskan kunci mazakan lezatnya bersumber dari arang untuk memasaknya. Dan, hingga saat ini tidak pernah memasak menggunakan minyak tanah ataupun elpiji sehingga kelezatan bisa terjaga.

"Arang menimbulkan harum khas memasak dan memasaknya cuma untuk satu porsi seingga tidak ada bumbu yang merusak masakan. Kami? juga menjual nasi goreng, magelangan hingga aneka olahan mie," tandasnya.? (Dhi)

Icip-Icip Tongseng Balung Ayam Pak Suradal
Minggu, 10 Juli 2011, krjogja

Senin, 12 September 2011

Tapa ledhek diyakini memudahkan jadi biduan

Fungsi spiritual di Goa Kiskeno sendiri memiliki banyak tujuan. Pertapaan Ledhek diyakini dapat memudahkan jalan bagi seorang yang berkeinginan menjadi seorang biduan seperti penyanyi dan penari. Pertapaan Santri Tani diyakini dapat memberikan kemakmuran bagi petani yang sedang menggarap sawahnya.

Masuk ke dalam cabang goa di tengah, sampai ke pertapaan Kusuma. Pertapaaan ini di yakini dapat mewujudkan keinginan mendapatkan ketentraman hati, keselamatan, atau kemudahan untuk memperoleh jabatan. Konon Raja Mataram Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah menyendiri di tempat ini.

Menurut Adi sampai saat ini masih banyak para peziarah yang melakukan ritual pertapaan di tempat ini, pada tanggal-tanggal tertentu seperti Senin Legi dan Jumat Kliwon. Terlihat dengan banyaknya sesaji, bekas digunakan orang-orang yang melakukan 'laku prihatin'.

Masuk lebih ke dalam lagi, akan mendapati air terjun padasan yang berbentuk seperti lidah ular. Air yang berasal dari resapan air hujan ini walaupun musim kemarau sekalipun tidak pernah akan kering. Alirannya yang mengalir keluar objek wisata Goa Kiskendo ini, tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Jatimulyo tapi juga oleh warga Kaligesing Purworejo yang letaknya berbatasan.

Untuk menelusuri seluruh bagian goa secara detil memerlukan kurang lebih dua jam. Selama di tempat ini juga berlaku larangan-larangan yang mengandung mitos. Bilamana ada penghuni masuk, tidak boleh buang air, makan minum atau mengejek bagian manapun dari goa. Adi mengungkapakan walaupun itu hanya mitos namun dengan adanya pantangan itu menjadikan lingkungan goa tetap terjaga.

“Percaya atau tidak tapi mitos itu mampu membuat pengunjung takut membuang sampah atau merusak bagian dari goa yang semua terbentuk oleh alam,” kata Adi terkekeh.

Secara utuh penampilan Goa Kiskendo di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, lebih kurang 38 km dari kota Jogja atau kira-kira 21 km dari kota Wates itu, lebih prima ketimbang objek wisata goa lainnya di Kulonprogo. Kondisi goa sudah berlampu listrik, selain itu mulai direncanakan pembangunan taman yang rencananya sebagai area pengembangan anggrek putih asli Kulonprogo.

Goa Kiskendo yang menempati area seluas 5 hektare ini merupakan salah satu lokasi yang merupakan bagian dari jalinan legenda cerita Ramayana selain tempat wisata lain seperti Suroloyo, Gunungkelir, Watu Blencong, Kayangan dan Jonggrangan.

Setelah pemugaran Goa Kiskendo pada 1981, untuk meningkatkan daya tarik wisata dibuatlah rangkaian cerita Ramayana mengenai objek-objek wisata di Kulonprogo sehingga terlihat seperti ada keterkaitan cerita di antara tempat-tempat wisata tersebut dengan tujuan promosi.

Jalinan kisah-kisah Ramayana itu tertuang dalam bentuk relief yang menghiasi sepanjang pelataran taman yang mengantar menuju pintu masuk Goa Kiskendo. Adalah Joni, seorang seniman dari Akademi Seni Rupa Indonesia Jogja yang merangkai kisah-kisah itu dan membangun relief Goa Kiskendo pada 1982 hingga 1983.(Victor Mahrizal)

Selasa, 20 Januari 2009 10:05:31

Keris tak semuanya mistis

Mendengar nama keris langsung  muncul di benak kita adalah sebuah kengerian atau sesuatu yang berbau mistis. Memang tak selamanya salah ada  anggapan itu,  memang dulunya keris digunakan oleh raja-raja sebagai sebuah pusaka. Sejak zaman kerajaan Budha pun , keris sudah mulai digunakan. Tak hanya punya nilai spiritual saja, justru bentuk karya seninya-lah yang menjadikannya sebagai sebuah benda koleksi.

Nilai sebuah keris terletak pada keindahan bentuk, bahan yang dipakai, serta proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan khusus.Ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus.  Untuk pegangan misalnya dalam keris Jawa terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan), weteng dan bungkul. Wrangka atau sarung kerisnya pun juga unik seperti  jenis wrangka ladrang yang terdiri dari dari  angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar  serta cangkring.

Keindahan keris inilah yang kemudian memotivasi Rahadi Saptata Abra seorang kolektor keris untuk menyimpan benda-benda ini. “Keris itu adalah salah satu jenis tradisi adiluhung Indonesia yang patut dilesatarikan,” paparnya, kepada Harian Jogja.

Abra menjelaskan bahwa ada 3 hal penting dalam keris mengapa punyai nilai keindahan tertentu diantaranya karena keris terdiri dari tangguh (style), dapur (kombinasi dari detail keris), serta pamor (motif gambar).

Hobinya mengoleksi keris dimulainya sejak tahun 1994. Hingga saat ini koleksinya sudah  mencapai 150-an bahkan lebih. Bagi Abra, sapaan akrabnya mengoleksi keris adalah hal yang menyenangkan. Lebih lagi kalau berburu keris, rasanya adalah sebuah rekreasi  yang menantang dan menggairahkan. Pernah dia menceritakan, hanya mencari warangka  kerisnya dia membutuhkan  seharian waktu untuk mencarinya. Berbagai perajin didatanginya dan ketika ia berhasil mendapatnya, perasaan lega pun langsung terpancar.
Sepertinya kemistisan keris yang menjadi mitos bagi sebagaian orang tak membuat Abra menghentikan hobinya ini. “Memang keris tak lepas dari nilai spiritual, namun setiap keris selalu diciptakan oleh pembuatnya untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi supaya omongan selalu dipercaya orang, menambah kewibawaan, memperoleh rezeki, dan sebagainya,”paparnya.

Memang tak salah dengan apa yang diomongkan oleh Abra. Inilah yang kemudian tercermin dalam filosofi keris yang mulai berubah dari zaman ke zaman. Dari Kerajaan Singosari sampai Mataran Sultan Agung, keris sudah diposisikan sebagai benda muliti fungsi dan multi makna. Kadang kita temui keris yang dianggap sebagai “sikep” atau “piyandel”, ada yang digunakan sebagai senjata pamungkas, dan juga sebagai “sengkalan” atau pertanda atas suatu kejadian penting.

Tak hanya itu, dalam sebuah filosofi Jawa ada sebuah anggapan yang berlaku bahwa seseorang baru bisa dianggap paripurna jika sudah memiliki lima unsur simbolik yaitu curiga (keris), turangga (kuda/kendaraan), wanita (istri), dan kukila (burung).Secara simbolik, curiga atau keris bermakna   kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara.

Mungkin filosofi Jawa inilah yang sampai sekarang melekat pada diri Adam, seorang kolektor keris lainnya yang sudah 28 tahun mengoleksi keris. Sampai dengan saat ini koleksi banyak yang sudah terjual dan saat ini hanya tersisa150 buah keris. Diakuinya bahwa keris adalah warisan leluhurnya, dan kecintaannya mengoleksi keris adalah untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung serta untuk investasi pribadi. Senada juga dengan pernyataan Abra, bahwa keinginannya mengoleksi keris ini juga menjadi simbol status bagi dirinya yang kebetulan menganut kebudayaan Jawa.

“Keris memiliki nilai spiritual yang tinggi dan memiliki seni keindahan yang sungguh sangat unik. Jika kita bisa menghayatinya dengan rasa yang mendalam, keris mempunyai energi yang berbeda dibandingkan benda yang lain,”papar Wibby Mahardhika, seorang pecinta keris lain. Dia menambahkan bahwa semua benda yang diciptakan untuk satu niat yang khusus akan dapat bertransformasi dengan baik pada pemiliknya.

Cara memperoleh keris
Bagaimana ya cara mendapatkan keris?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu terbesit dalam benak orang awam ketika berhadapan dengan kolektor ataupun pecinta keris. Apakah harus bersemedi terlebih dahulu, atau ada gerai khusus yang menjual?

Mendapatkan keris memang tak mudah. Keris bukanlah hal yang mudah untuk diperdagangkan apalagi jenisnya keris asli. Berdasarkan penuturan Abra, dirinya selalu diberi informasi lewat telepon bila ada jenis yang baru. Pengayuh itulah sebutan bagi orang yang menjual keris.

Tukar menukar dengan kolektor lain juga menjadi salah satu cara mendapatkan keris. Biasanya bisa perorangan lewat komunitas. Kalau di Jogja ini salah satu komunitas keris yang sering melakukan kegiatan ini adalah komunitas keris Pametri Wiji. Dan jangan khawatir bahwa pemindahan keris dari tangan orang lain tidak membutuhkan tradisi sendiri. “Yang penting itu adalah memperlakukan keris dengan baik meski itu bukan asli milik kita,”papar Wibby.

Ternyata ada uniknya cara mendapatkan zaman sekarang dan zaman dulu. Pada zaman sekarang, untuk mendapatkan keris selalu ditukarkan dengan uang. Berbeda dengan zaman dulu, keris bisa didapatkan dengan menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan rumah, seperti hewan peliharaan, atau perabotan rumah. “Dulu itu untuk mendapatkan keris, sapi pun bisa diberikan pada pemilik keris,” papar Adam. Perlu diketahui tradisi membeli atau menukar  keris ini sering disebut memaskawinkan.

Harga keris pun juga tidak bisa dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah, dan harga tergantung dari seni keris sendiri. Semakin detail pembuatannya, langka bahannya, tentunya harganya bisa melambung tinggi. Lebih lagi jika membeli keris secara langsung dari pemiliknya atau sang Empu, dijamin harganya juga tak murah. Dan bagi kolektor keris, keaslian keris yang lebih diutamakan.

Keaslian atau keorisinilanlah yang menjadi pedoman bagi Abra dalam membeli keris. Baginya, untuk membeli sebuah keris bukanlah hal yang mudah. Mungkin bagi orang awam, semua keris yang dijual di pasaran adalah sama, namun berbeda dengan seorang kolektor yang tahu tentang detailnya.
“Keris yang akan saya beli itu harus digarap dengan bagus artinya harus utuh dan tidak cacat. Karena bila ada bagian yang hilang akan mengurangi nilainya. Selain itu dari harga pun juga akan saya perhitungkan,”ungkapnya.

Perawatan Keris
Menjadi sebuah seni yang indah serta memiliki multi fungsi dan makna, membuat keris harus diperlakukan dengan baik dan tidak sembarangan. Sasi sura dalam penanggalan Jawa memang menjadi asumsi orang bahwa hari itulah saatnya orang memandikan keris atau disebut dengan penjamasan/ diwarangi.

Namun pendapat itu tak semestinya benar bagi Adam. Baginya bila setiap Sura keris dimandikan justru malah membuat bahan penyusun keris semakin tipis. Oleh karena itu, biasanya setiap 3 hingga 6 bulan sekali, Adam selalu meminyaki kerisnya supaya lebih awet.  “Tidak mesti setiap Sura keris harus dimadikan, yang penting keris harus rutin dijaga dan dirawat,”paparnya.

Berbeda dengan Abra, yang setiap tahunnya selalu memandikan kerisnya pada saat sasi Sura. Dia pun tak berani memandikan sendiri kerisnya karena memandikan keris membutuhkan cara tersendiri. Baru setelah itulah, dalam tahap meminyaki keris, dirinya selalu melakukannya sendiri dengan menggunakan minyak cendana. “Semakin lama diminyaki maka keris akan semakin bagus.Intinya perawatan keris itu adalah  mencegah supaya  keris tidak  mengalami korosi,”paparnya.

Meski hanya benda mati, namun keris membutuhkan kasih sayang tersendiri. Keris dan pemilik ibaratnya adalah sepasang suami-istri yang harus saling memahami.
Oleh Olivia Lewi Pramesti


Sabtu, 10 Januari 2009 15:47:36