Tampilkan postingan dengan label cerita mistik legenda dan sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita mistik legenda dan sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2011

Reog Dhodhog Gunung Kidul, Seni Tradisi Yang Hampir Punah


YOGYA (KRjogja.com) - Reog Dhodhog dari Piyaman Gunung Kidul sebagai salah satu seni tradisi yang hampir punah kembali dihadirkan dalam pertujukkan Seni Tradisi Sepanjang Tahun di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu (27/3). Tarian tradisional yang mistis ini biasanya dipertontonkan pada acara Rasulan yang digelar masyarakat Gunung Kidul sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panennya.

Koordinator Reog Dhodhog, Sumarwan menjelaskan tarian ini lebih dikenal dengan nama Reog Dhodhog Bergodo yang ditarikan 26 penari yang berpakaian prajurit ala tempo dulu baik tua maupun muda dan merupakan tarian perang mistis yang wajib ditarikan setiap ada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW atau Rasulan setahun sekali.

"Tarian ini wajib ditarikan karena merupakan wujud tarian rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa dengan hasil panen yang mencukupi bagi warga Gunung Kidul setiap tahunnya, jika tidak dipentaskan niscaya akan ada musibah atau kejadian buruk yang menimpa warga," paparnya.

Mengenai ceritanya sendiri, dikatakanya berasal dari kisah perang kerajaan yang dulu ada di Gunung Kidul yaitu antara Kubu Demang Woni Pawiro melawan kubu Demang Ronggo Senang yang kala itu memperebutkan daerah kekuasaan Kademanangan di Kota Wonosari dengan menggunakan tombak tradisional bernama Rotek maka tarian ini disebut Reog.

"Sedangkan untuk dodhognya sendiri berasal dari alat musik yang digunakan yang menyerupai kendang namun hanya satu sisi saja yang berbunyi dhodhog maka disebut Reog Dhodhog," imbuhnya.

Iringan yang digunakan menggunakan iringan tradisional klasik yang menggunakan alat-alat musik sederhana seperti dhodhog, gong, bendhe, angklung dan jogo yang hanya dimainkan oleh 5 orang pengrawit. "Ada juga Reog Dhodhog kreasi baru yang biasanya ditarikan anak muda, musiknya juga musik kreasi, namun kali ini yang ingin dipentaskan adalah Reog Dhodhog yang benar-benar asli yang berdurasi 30 menit" paparnya.

Diharapkan dengan adanya pertujukan seni tradisi reog Dhodhog yang kini tidak diminati anak muda ini dapat mengajak generasi muda untuk mencintai kesenian tradisionalnya. "Para generasi muda di desa saya tidak jalan atau tidak mau menarikan tarian ini yang kini hanya ditarikan orang tua saja, padahal dengan menarikan tarian ini mereka dapat nguri-nguri budaya," pungkasnya. (Fir)

Pintu Gaib Pangeran Diponegoro di Goa Selarong


Sabtu, 16 April 2011 KR JOGJA


SIAPA yang tak kenal dengan Pangeran Diponegoro, pejuang berkuda dari tanah Jawa dengan sorban putih dan senjata keris tersebut. Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan tempat keramat yang satu ini, yaitu Goa Selarong.

Pada masa perlawanan Diponegoro terhadap Belanda pada tahun 1825 sampai 1830, Goa Selarong merupakan kunci keberhasilan perjuangan Diponegoro dan pasukannya. Disamping untuk tempat persembunyian, tempat ini juga dijadikan sebagai markas untuk mengatur strategi guna mengusir kompeni dari tanah Jawa.

Letak wilayah Goa Selarong termasuk ke dalam wilayah Dusun Kembang Putihan, Kelurahan Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Letaknya berada di selatan Kota Gudeg ini, kira-kira berjarak 30 km dari pusat kota atau jika menggunakan perjalanan darat akan memakan waktu sekitar 45 menit lamanya.

Kompleks Goa Selarong terletak di lokasi perbukutan kapur setinggi kurang lebih 35 m yang dipenuhi oleh pepohonan yang labat nan rindang. Letaknya sangatlah curam, kemiringan bisa sekitar 45 derajat. Untuk mencapainya, siapapun orangnya harus meniti ratusan anak tangga sejauh 400 m untuk bisa sampai ke tempat itu.

Goa Selarong ini berbentuk sempit dengan lebar kira-kira hanya 3 m dan tinggi yang tak lebih dari 2 m, sedangkan panjang ke dalamnya cuma sekitar 3 m saja. Tidak ada yang istimewa dari bentuk Goa Selarong ini. Orang Jawa menyebut goa jenis seperti ini dengan sebutan goa buntet alias buntu tidak tembus berlubang. Jadi, goa ini merupakan cekungan cadas biasa saja tanpa ada tembusannya ke dalam.

Dikatakan oleh Sarimin (75) kepada KRjogja.com, sang juru kunci kompleks Goa Selarong, secara kasat mata memang Goa Selarong tersebut adalah buntu, namun bagi Diponegoro dan para pengikutnya, Goa Selarong merupakan pintu gaib untuk masuk menuju ke dalam perut bukit kapur tersebut.

“Walaupun goa tersebut buntu, namun Pangeran Diponegoro dan pengawalnya bisa menembusnya hingga ke dalam, seolah bisa tinggal berada di dalam bukit tersebut. Jadi, Goa Selarong hanyalah sebagai pintu gaib masuknya saja dan goa yang sebenarnya masih berada jauh di dalamnya,” katanya.

Itulah sebabnya yang membuat mengapa Pangeran Diponegoro dan pasukan setianya akan sangat sulit ditangkap dan sama sekali tidak pernah tersentuh atau sekalipun terlihat oleh mata pasukan Belanda, jika sedang bersembunyi di Goa Selarong ini.

Walaupun pasukan Belanda telah sampai di kompleks tersebut, namun pasukan kompeni tetap saja tidak dapat melihat bahwa sebenarnya terdapat ratusan pasukan Diponegoro bersembunyi di dalam Goa Selarong. Pasukan kompeni hanya berputar-putar di lokasi dan hanya bisa melihat gunungan batu cadas yang tak berpenghuni.

Tak heran jika kemudian untuk memancing seorang Diponegoro agar mau keluar dari Goa Selarong, kompeni Belanda melalui Jendral De Kock harus melakukan politik adu domba dengan cara mengajak berunding Diponegoro di Magelang pada sekitar tahun 1830, untuk kemudian menangkap dan mengasingkannya ke Makasar, Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya di tahun 1855.

Keramatnya kompleks Goa Selarong dengan pintu goa gaibnya yang bernama Goa Selarong ini memang sudah tersohor bagi telinga masyarakat Jawa hingga saat ini. Kompleks ini pun terbilang wingit alias angker, pada malam-malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon, terkadang dari dalam perut Goa Selarong terdengar lantunan gending-gending Jawa yang sedang ditabuh. Ada suaranya, namun tidak ada wujudnya.

Konon diyakini, pada kedua hari tersebut para gaib sedang berkumpul di tempat-temat keramat, termasuk di Goa Selarong ini. Pada saat itulah, dari malam hari sampai subuh tebaran aroma seperti dupa dan kemenyan pasti sangat jelas menyeruak dari Goa Selarong ini.

Pun demikian, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan di Goa Selarong ini, yaitu meminta pesugihan atau meminta nomor togel. “Hal itu yang sangat tidak disukai oleh gaib di Goa Selarong tersebut. Jika itu dilarang, pasti bencana akan menimpa siapa saja yang melanggarnya,” kata kakek 4 cucu ini.

Bencana tersebut bisa langsung terjadi di tempat itu juga, seperti misalnya terpeleset atau terjatuh dari tebing hingga berakibat kematian. Kalaupun tidak di tempat tersebut, dilain tempat bencana itu pasti akan menghampiri. “Kalau mau mencari pesugihan atau mencari nomor, jangan di tempat sini, mending mencari di tempat lain saja,” ingat Sarimin. (Ivan Aditya

Arjuna Yang Terbuat Dari Kulit Manusia


Rabu, 04 Mei 2011,KR JOGJA


SEPERANGKAT wayang kulit ini disebut Wayang Jimat. Dari ukurannya, tokoh-tokohnya, sama antara Wayang Jimat ini dengan wayang kulit umumnya. Kata Jimat pada Wayang Jimat ini diambil dalam bahasa Jawa. Jimat berarti benda pusaka yang memiliki kesaktian atau kekuatan. Jadi, jika diterjemahkan, Wayang Jimat berarti sebuah benda pusaka berupa wayang yang memiliki kesaktian lebih.

Seperangkat Wayang Jimat yang berisi sekitar 80 tokoh pewayangan ini telah berusia ribuan tahun. Saking tuanya, bahkan beberapa warna masing-masing tokoh wayangnya pun perlahan sudah pudar kerena ditelan usia.

Wayang Jimat ini sejak jaman dahulu sampai sekarang tidak pernah berpindah tempat. Dipercaya, wayang-wayang ini hanya boleh berada dan bersemayam di kawasan Lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Kampung Ndakan, Kenalan, Magelang, Jawa Tengah.

Diterangkan oleh Sumitro (70) pewaris Wayang Jimat sekaligus sesepuh Kampung Ndakan, Wayang Jimat ini harus dirawat secara turun temurun oleh sesepuh Kampung Ndakan, tidak boleh oleh orang dari daerah lainnya.

“Wayang Jimat harus berada di Kampung Ndakan. Pewaris Wayang Jimat bukan secara turun-temurun berasal dari garis keturunan keluarga sendiri. Namun pewaris wayang ini haruslah orang yang dituakan di Kampung Ndakan yang dianggap mampu menjaga dan merawatnya,” kata pria yang telah 30 tahun merawat wayang keramat tersebut.

Diterangkan tentang asal muasal Wayang Jimat oleh pria yang juga seorang dalang wayang kulit ini, Wayang Jimat merupakan salah satu benda keramat peninggalan dari salah satu keraton yang ada di tanah Jawa ini, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta.

Kala itu, ada seorang pangeran darah biru dari Keraton Surakarta menderita sakit yang berkepanjangan. Berbagai tabib telah mencoba untuk menyembuhkan penyakitnya. Namua tetap saja, sang pangeran tak sembuh juga.

Hingga akhirnya sampailah kepada pengobatan tabib yang terakhir. Si tabib tersebut mengatakan kepada pangeran kalau sakit tersebut hanya bisa disembuhkan oleh seorang pertapa sakti yang berasal lereng Gunung Merbabu yang bernama Ki Ajar Ndaka.

Bersama para pengawal setia istana, sang pangeran segera dibawa menuju ke lereng gunung yang kini membatasi dua kota di wilayah Jawa Tengah, yaitu kota Magelang dan Salatiga. Benar, di lereng gunung ini memang terdapat seorang pertapa bernama Ki Ajar Ndaka yang dimaksud.

Setelah menceritakan penyakitnya kepada Ki Ajar Ndaka, segera pertapa sakti ini pun mengobati sakit sang pangeran. Setelah dibacakan mantera dan berbagai ramuan obat diberikan, Ki Ajar Ndaka langsung memerintahkan sang pangeran untuk pulang dan segera istirahat.

Beberapa hari setelahnya, berangsur-angsur sakit yang menahun tersebut mulai sembuh. Sang pangeran menyambut bahagia atas kesembuhannya. Segera, pihak keraton mengutus para punggawa dan prajurit untuk menemui Ki Ajar Ndaka dan memboyong ke Keraton Surakarta sebagai tamu kehormatan.

Sebagai ucapan terimakasih serta balas jasa, Ki Ajar Ndoko lantas diangkat sebagai kerabat kerajaan, namun tawaran tersebut ditolah Ki Ajar Ndaka. Akan diberi sebidang tanah berikut emas dan harta benda pun, dengan rendah hati pertapa ini juga menolaknya.

Segala pemberian yang diberikan keraton ditolaknya, sampai akhirnya pihak keraton menyodorkan sebuah peti kayu yang berisi seperangkat wayang kulit bernama Wayang Jimat, baru Ki Ajar Ndaka bersedia menerimanya.

Dibawalah Wayang Jimat tersebut kembali ke tempat pertapaan Ki Ajar Ndaka di lereng Gunung Merbabu. Dengan setia, pertapa ini selalu merawat benda pusaka pemberian Keraton Surakarta tersebut sampai dirinya meninggal.

Ketika akan meninggal, dirinya berpesan agar Wayang Jimat ini selalu dirawat dan dipelihara serta digelar untuk menghibur orang yang sedang kesusahan. Oleh Ki Ajar Ndaka, Wayang Jimat tersebut bukan diwariskan kepada anak cucu keturunannya, melainkan diwariskan kepada sesepuh warga kawasan lereng Merbabu.

Makam Ki Ajar Ndaka kini terletak di sebelah timur kampung yang selalu diselimuti kabut ini. Untuk mengenang jasanya, daerah tempat di mana Ki Ajar Ndaka menghabiskan seluruh hidupnya untuk bertapa tersebut lantas dimanakan Kampung Ndakan, diambil dari nama belakangnya, yaitu Ndaka.

Arjuna alias Janoko

Seperangkat Wayang Jimat tersimpan dalam kotak berbahan kayu jati dengan ukuran panjang sekitar 1 m, lebar 3 m dan tinggi kurang lebih setengah meter. Wayang tua ini kini berada di rumah kediaman Sumitro, sesepuh kampung. Peti ini masih asli, alias masih utuh seperti ketika Ki Ajar Ndaka menerimanya dari Keraton Surakarta dulu.

Wayang Jimat ini sangat dikeramatkan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Tengah. Ini karena Wayang Jimat dipercaya memiliki kekuatan unsur magis yang kuat melekat pada salah satu tokohnya, yaitu tokoh wayang Janoko.

Pada umumnya, wayang kulit akan terbuat dari kulit sapi. Namun wayang tokoh Janoko dari Wayang Jimat ini terbuat dari bahan yang tidak lazim, yaitu terbuat dari kulit manusia. “Yang terbuat dari kulit manusia hanya tokoh Janoko saja. Kalau tokoh yang lain pada Wayang Jimat sama saja, bahannya terbuat dari kulit sapi,” tegasnya.

Dikatakan oleh bapak tiga orang anak ini kepada KRjogja.com, konon bahan kulit yang dipakai untuk membuat tokoh Janoko alias Arjuna atau Permadi pada Wayang Jimat adalah kulit dari seorang pemuda suatu desa yang tinggal di sekitar daerah Surakarta, yang hidup ketika jaman Keraton Kasunanan Surakarta belum didirikan.

“Kalau siapa orang yang kulitnya dijadikan untuk bahan pembuatan wayang tokoh Janoko, saya tidak bisa memastikan siapa orangnya. Namun yang pasti, dalam pembuatnnya dahulu, air yang dipergunakan untuk menyamak wayang Janoko ini adalah bekas air yang digunakan untuk memandikan jenazah mayat,” imbuhya.

Salah satu tokoh kesatria dalam Pandawa Lima di Wayang Jimat ini memiliki bentuk serta perawakan sama seperti tokoh wayang Janoko pada umumnya, yaitu berperawakan kecil, hidung mancung dan bertubuh tinggi.

“Umumnya, wayang Janoko itu akan berwarna kuning terang, tapi Janoko di Wayang Jimat ini warnanya lebih gelap dan hitam. Ini disebabkan bahannya yang terbuat dari kulit manusia. Wayang kulit biasa, kalau diraba akan terasa kasar, namun wayang Janoko ini kalau diraba rasanya lembut, kulitnya tipis serta ringan.”

Wayang Janoko ini pun seolah memiliki nyawa. Ketika berada di dalam peti jati tempat disimpannya Wayang Jimat, sering terdengar suara gaduh yang berasal dari dalam peti, bahkan suara orang seperti sedang mengetuk peti pun acap terdengar. Suara itu baru reda jika si perawat wayang ini memberikan sesaji.

Tiap malam Jumat Kliwon, Janoko ini selalu meminta sesaji. Sesaji tersebut berupa kembang, dupa, dan air putih, yang kesemuanya diletakkan di atas peti. “Selama 30 tahun saya merawat Wayang Jimat, saya belum pernah terlambat memberikan sesaji. Saya tidak tahu akan terjadi apa jika sesaji itu terlabat diberikan.”

Ketika pagelaran Wayang Jimat ini digelar, kembali…. Sang Janoko ini pun selalu menunjukan kalau dirinya itu hidup. “Saya sering merasakan sesuatu yang berbeda ketika saat Janoko akan tiba dimainkan, Janoko tersebut seperti hidup,” aku Sumitro.

Ketika giliran tokoh Janoko ini tampil di tangan sang dalang, wayang ini seolah bergerak-gerak sendiri tanpa dimainkan oleh dalang. Jadi, justru tangan sang dalang lah yang mengikuti gerak wayang tokoh Janoko ini yang bergerak-gerak dengan sendirinya.

“Hanya para pewaris saja yang boleh mementaskan Wayang Jimat ini, selain itu tidak ada yang kuat memainkannya. Pernah ada seorang dalang yang memainkan Janoko Wayang Jimat ini, tapi dalang tersebut tidak kuat. Dikatakan oleh dalang tersebut, ketika mau dimainkan, Janoko tersebut terasa berat dan membuat tangannya bergetar.”

Mengabulkan Segala Permintaan

Dalam setahun, sedikitnya Wayang Jimat ini wajib 2 kali ditampilkan dalam pagelaran wayang kulit. Kedua pegelaran itu pun harus dilaksanakan di Kampung Ndakan pada bulan Sapar dan bulan Syawal, bulan yang merupakan bulan baik dalam kelender penanggalan Jawa.

Dalam setiap pementasannya, berbagai sesaji yang harus dipersiapkan oleh Sumitro, sebelum Wayang Jimat digelar. Sesajen itu diantaranya 2 buah ingkung ayam, 2 buah tumpeng, 2 sisir pisang, 2 buah kain jarik, 2 buah jagung, 2 batang tebu, 2 cangkir minuman kopi, 2 cangkir minuman teh, 2 buah jenang putih dan 2 buah kemenyan.

“Perlengkapan sesajen yang disediakan sepasang, ini dimaksudkan sebagai perlambang kalau kehidupan di dunia itu membutuhkan suatu keseimbangan di dalamnya, seperti halnya Sang Pencipta selalu menciptakan makhluknya berpasangan.”

Sumitro mengaku, dalam setiap pementasan Wayang Jimat yang dilakukannya, dirinya tidak pernah menentukan lakon alias judul atau tema apa yang akan diusungnya terlebih dahulu dalam pagelaran Wayang Jimat nantinya. Itu semua muncul dengan sendirinya.

Ketika sesajen telah dipersiapkan semua dan dupa dinyalakan, Sumitro kemudian membacakan mantera yang dahulu juga dibaca oleh pewaris-pewaris Wayang Jimat ini sebelum dirinya. Pada saat itulah, baru sang dalang ini mendapat wangsit tentang lakon yang harus dimainkannya saat itu.

“Kalau masalah lakonnya apa nanti, seperti itu sudah jalan dengan sendirinya, seolah ada yang mengarahkan saya untuk memainkan lakon tersebut dari awal hingga akhir nantinya. Jadi yang menentukan lakonnya itu bukan saya, tapi Wayang Jimat itu sendiri.”

Selama pegelaran Wayang Jimat berlangsung, dupa pun tetap harus selalu dibakar dan tidak boleh padam mengharumkan aroma magis pagelaran wayang ini. Dupa tersebut baru bisa dimatikan ketika kedua gunungan kembar pada wayang disatukan, pertanda pagelaran Wayang Jimat telah usai.

“Selain bulan tersebut, Wayang Jimat ini juga bisa ditampilkan, asalkan itu merupakan suatu pagelaran nadzar Wayang Jimat. Kalau yang untuk nadzar, Wayang Jimat boleh digelar di luar Kampung Ndakan dan boleh dilaksanakan kapan saja,” tambahnya.

Artinya, setiap orang yang memiliki keinginan baik, kemudian si orang tersebut berjanji jika keinginannya nantinya tercapai, dia akan memenuhi janjinya tersebut, yaitu dengan menanggap Wayang Jimat ini. Itulah yang dimaksud denga nadzar terhadap Wayang Jimat.

Kebanyakan dari mereka yang melakukan nadzar Wayang Jimat adalah mereka yang ingin mendapatkan pekerjaan, dinaikan jabatannya, ingin mendapat momongan, dimajukan penghasilan dan bisnis usahanya. Bahkan dari yang dahulu miskin kemudian kini menjadi kaya raya pun ada.

“Siapapun orangnya yang nadzar Wayang Jimat, pasti segala permintaannya akan terkabulkan. Namun jangan lupa, nadzar tersebut harus ditepati. Kalau tidak ditepati, nanti akan berbalik menjadi petaka bagi orang tersebut,” ingat Sumitro kepada. (van)

Makam Ronggowarsito, Tempat Ritual Favorit Keluarga Soekarno


TEMPAT yang satu ini sangat dikeramatkan, tak sekedar oleh warga sekitar saja, bahkan pula oleh bangsa ini. Banyak para pemimpin negeri yang telah mengunjungi makam pujangga besar kenamaan ini, apalagi saat akan digelarnya perhelatan akbar pemilihan presiden. Konon dipercaya, dengan berziarah ke makam ini akan memapu memuluskan jalan menuju kursi nomor satu negeri ini.

Tempat ini berupa sebuah kompleks kuburan kuno yang ada di Dusun Kedon, Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Di areal kompleks makam seluas kurang lebih 100 meter persegi ini, di sinilah makam para leluhur dan para pendiri kota Klaten ini dimakamkan.

Di makam yang berjarak sekitar 10 km sebelah tenggara pusat kota Klaten ini pula bersemayam jasad seorang tokoh besar dalam sejarah cerita babad tanah Jawa, yaitu Raden Ngabei Ronggowarsito.

Diceritakan oleh Mbah Sewo (80), nenek tua juru kunci kompleks makam tua ini kepada KRjogja.com, Ronggowarsito adalah seorang tokoh pujangga alias peramal ulung yang sangat disegani oleh para raja-raja yang ada di tanah Jawa. Ronggowarsito lahir di Yosodipura, Surakarta, Jawa Tengah, dengan nama kecil yaitu Bagus Burhan. Dalam penanggalan Jawa, Ronggowarsito terlahir pada tanggal 10 Dzulkaidah, tahun Be 1728, wuku Sungsang, atau dalam hitungan penanggalan Masehi berarti tanggal 15 Maret 1802, tepat pukul 12 siang.

Dengan kepekaan spiritual dan olah kebatinan kejawen yang dimilikinya, Ronggowarsito pun akhirnya didaulat oleh Sultan Keraton Surakarta untuk menjadi peramal istana kerajaan yang merupakan kerajaan pecahan dari Keraton Yogyakarta, hasil dari Perjanjian Giyanti tahun 1755. “Tugas dari Raden Ronggowarsito adalah meramalkan setiap apa saja yang bakalan terjadi pada pemerintahan Keraton Surakarta,” jelas nenek 12 cucu ini.

Dalam kehidupan kerajaan jaman dahulu, keberadaan seorang peramal istana memang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan kehidupan bagi kerajaan itu. Selain untuk meramalkan tentang apa yang akan terjadi terhadap kehidupan kerajaan, seorang pujangga juga dibutuhkan jasanya untuk meramalkan kekuasaan dari sang raja itu sendiri di kemudian hari.

Artinya, dengan ramalan-ramalan dari seorang ahli nujum istana tersebut, sang raja pun bisa mengantisipasi sejak awal guna mengamankan posisi kekuasaannya dari gangguan rival-rival yang ingin menjatuhkannya dan menginginkan posisinya sebagai raja.

Ronggowarsito mengabdi sebagai ahli ramal Keraton Surakarta ini sejak masa pemerintahan Sultan ke VII hingga Sultan ke VIII di keraton tersebut. Berkat ramalan-ramalan dari Ronggowarsito, Keraton Surakarta sempat mengalami masa kejayaannya kala itu dan menjadi kerajaan yang disegani di kawasan tanah Jawa.

Ronggowarsito meninggal dunia pada tahun 1873 dalam usia 71 tahun. Dalam salah satu wasiat terakhirnya, Ronggowarsito berpesan untuk dimakamkam berdekatan dengan pusara kakeknya, yaitu Sudiro Dirjo Gantang di kompleks dimana kini makam Ronggowarsito berada.

Kematian Ronggowarsito merupakan kehilangan besar bagi Keraton Surakarta. Ronggowarsito tutup usia dengan meninggalkan ratusan ramalan-ramalan yang ditulisnya dalam bentuk syair dan bait yang sampai saat ini terus menjadi tanda tanya besar yang belum terpecahkan bagi masyarakat Jawa pada umumnya.

Soekarno Meyakini Ramalan Ronggowarsito

Layaknya seorang peramal kerajaan besar, hampir semua ramalan-ramalan dari sang pujangga yang tertulis dalam beberapa kitab inipun tidak pernah meleset bagi apa yang terjadi dikehidupan Kerajaan Surakarta dikemudian hari.

Saking masyurnya ramalan Ronggowarsito ini, bahkan kitab-kitab ramalannya pun dipercaya juga berlaku bagi apa yang akan terjadi bagi kehidupan negeri ini, Indonesia. Salah satu orang yang sangat percaya dengan ramalan Ronggowarsito tersebut adalah mendiang Soekarno, presiden pertama negeri ini.

Ronggowarsito merupakan salah satu tokoh yang menjadi panutan Soekarno. Pemimpin yang kental dengan olah kebatinan Jawa ini pun semasa hidupnya sering mengunjungi kompleks makam ini untuk berziarah dan meminta petunjuk serta restu di hadapan pusara Ronggowarsito.

“Pada tahun 1952, Pak Karno merenofasi makam Raden Ronggowarsito. Makam Raden Ronggowarsito dibuatkan bangunan tersendiri dan baru selesai pembanguannya pada tahun 1954,” terang nenek tua yang mewarisi jabatan menjadi juru kunci makam Ronggowarsito dari suaminya yang telah meninggal dunia pada tahun 1978.

Oleh mendiang Soekarno, pusara Ronggowarsito dibuat terpisah dari makam lainnya, masih di dalam kompleks makam tersebut. Makam tokoh legendaris ini pun dibuatkan bangunan permanen tersendiri seperti rumah, yang disebut cungkup.

Di dalam cungkup seluas sekitar 50 meter persegi tersebut, terdapat pula 11 nisan kerabat dekat Ronggowarsito yang diantaranya adalah kedua istri tercintanya yang bernama, Raden Ayu Gombak dan Raden Kumaradewa. Nisan pusara Rongowarsito terbuat dari batu marmer putih besar setinggi sekitar 1 m yang ditutupi kain kelambu berwarna putih.

Selama hidupnya, Proklamator ini pun sering pula menerapkan ramalan-ramalan dari Ronggowarsito dalam setiap langkah politiknya, baik di dalam politik luar negeri ataupun dalam politik nasional bangsa ini dan menjadikan ramalan tersebut sebagai peringatan akan kejadian negeri ini yang akan datang. Termasuk ramalan tentang akan berakhirnya kekuasaannya ditangan Soeharto. Soekarno pun telah mengetahui jauh-jauh sebalumnya.

“Ada beberapa ramalan Ronggowarsito yang berkaitan dengan kehidupan bangsa ini, misalnya kitab Kalatidha. Syair-syair yang tertulis dalam kitab tersebut menceritakan tentang jaman edan,” cerita Mbah Sewo.

Jaman edan yang dimaksud dalam kitab Kalatidha tersebut, adalah jaman dimana situasi negeri ini serba tidak terkendali, kondisi bangsa ini mirip seperti kondisi seorang edan alias gila. Jika ditafsirkan, jaman edan tersebut adalah jaman ketika pemberontakan G/30S/PKI dan masa revolusi yang akhirnya mengakhiri karir politik dan pemerintahan Soekarno.

Mencoba ditafsirkannya lagi oleh Mbah Sewo, bahwa peristiwa jaman edan tersebut terulang kembali ketika awal akan lengser keprabon alias runtuhnya rezim Suharto setelah sekitar 32 tahun bertahta. “Jaman edan pada kitab Kalatidha tersebut juga terbukti pada jaman roformasi, saat Pak Harto akan berhenti jadi presiden,” terang buyut 8 cicit ini.

Pencalonan Presiden

Makam Ronggowarsito ini juga menyimpan misteri lain. Mitosnya, makam ahli nujum kerajaan Surakarta ini juga dipercaya mampu untuk mendongkrak alias menaikan pamor dan drajat bagi mereka yang datang dan mendoakan Ronggowarsito di makam ini. Dalam hal ini adalah derajat untuk kepentingan kepemimpinan.

“Mamang benar, makam Raden Ronggowarsito ini dipercaya oleh orang banyak akan mampu untuk meningkatkan derajat, pangkat, serta wibawa seseorang, bagi siapa saja yang melakukan ziarah ke makam Raden Ronggowarsito ini.”

Jejak Bung Karno yang sering mengunjungi dan berziarah serta laku perihatin di makam Ronggowarsito, akhirnya berhasil membuat dirinya memimpin negeri ini sebagai presiden pertama. Ritual seperti itu pulalah yang juga ditiru oleh banyak orang yang ingin berhasil menjadi seorang pemimpin, baik dari tingkat pemimpin desa sampai pada tingkat pemimpin sekelas presiden.

Seperti dikatakan Mbah Sewo, banyak orang-orang penting negeri ini yang telah mengunjungai makam Ronggowarsito. Hampir semuanya yang mengunjungi dan berziarah di makam ini, tak lama kemudian terkabul keinginannya untuk menjadi seorang pemimpin.

“Dahulu Gus Dur pernah ziarah ke makam Raden Ronggowarsito ini, itu sekitar tahun 1998, setelah Pak Harto berakhir menjadi Presiden. Gus Dur ke sini cuma sebentar, langsung pergi tanpa pamit kepada saya,” kenang Mbah Sewo.

Terbukti, setelah kedatangan Gus Dur alias Abdurrahman Wahid di tempat ini, setahun kemudian, di tahun 1999 dirinya mampu bertahta menjadi Presiden ke-4 negeri ini, menggantikan presiden sementara kala itu, BJ Habibie.

Tak berselang lama, giliran Megawati Soekarnoputri datang berziarah di makam Ronggowarsito ini mengikuti jejak oran tuanya, Soekarno. Kala itu Magawati masih menjadi Wakil dari Presiden Abdurrahman Wahid.

“Malam-malam sekitar jam 2 pagi saya disusul oleh warga sini, katanya ada Ibu Megawati datang mau ziarah. Lalu saya datang ke makam untuk membukakan pintu makam Raden Ronggowarsito. Saya lihat Ibu Megawati memakai kerudung dan menaburkan bunga di pusara makam Raden Ronggowarsito bersama 2 orang perempuan lainnya.”

Yang terjadi kemudian, keinginan Megawati terkabul juga untuk naik tahta menjadi presiden. Pada tanggal 23 Juli 2001, akhirnya Megawati resmi menjadi presiden ke-5, sekaligus presiden perempuan pertama di negeri ini menggantikan presiden sebelumnya, Abdurrahman Wahid.

Mbah Sewo pernah juga menerima kedatangan Khofifah Indar Parawansa, tokoh perempuan yang cukup dekat dengan keluarga Gus Dur, untuk berziarah di makam Ronggowarsit. “Saat itu pas ramainya beliau akan dicalonkan untuk menjadi menteri.”

Dan benar, tak selang lama kemudian setelah kedatangannya di makam ini, akhirnya Khofifah pun dilantik untuk menduduki posisi sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan pada kabinet menteri masa pemerintahan Gus Dur dan Megawati.

“Pak Bibit Waluyo juga pernah ke sini sebelum pemilihan Gubernur Jawa Tengah, akhirnya beliau terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah. Besok kalau pemilihan presiden sudah dekat, pasti banyak orang penting yang akan datang berziarah ke makam Raden Ronggowarsito ini lagi,” tuturnya. (Ivan Aditya)


KR JOGJA

Rabu, 14 September 2011

Cerita Mistik di Kampung Setan

kelurahan Alehanuae dan sekitarnya tidak asing lagi. Kampung setan adalah nama salah satu tempat yang adanya di Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai.

Tak jelas siapa yang pertama kali memberinya nama Kampung Setan.Yang jelasnya sesuai keterangan beberapa masyarakat yang kami temui, ada sejumlah kisah misteri yang bersumber dari kampung tersebut. Di sekitar kampung itu terdapat sejumlah rumah panggung penduduk yang letaknya saling berjauhan.

Sekitar 35 tahun yang lalu Asbar (45 th) pernah tinggal bersama neneknya di kampung itu sekitar 2 tahun lamanya. Ketika itu berbagai pengalaman mistik yang Asbar rasakan, namun belum mengerti sama sekali arti dari setiap kejadian yang di alaminya. Misalnya suatu ketika diajak bersama kakak sepupu pergi mencari buah mangga masak dimalam hari bersama anak-anak kampung setempat, kebetulan waktu itu lagi musim mangga dan sudah menjadi kegembiraan anak-anak setempat mencari buah mangga yang jatuh dimalam hari.

“Saya masih ingat ketika itu karena malam semakin larut,teman-teman pada tidur semua di bawa pohon mangga,tinggallah saya seorang yang tidak bisa memejamkan mata ,entah apa sebabnya.Tiba-tiba terdengar suara mangga yang jatuh di tengah semak belukar,saya pun berlari menuju tempat jatuhnya mangga tersebut dengan membawa obor yang terbuat dari daun kelapa yang telah di anyam. Setelah merasa yakin dengan apa yang saya lihat, mangga itu lalu saya raih” Ujar Asbar kepada Mitos.

“Setelah meraih mangga yang ada dihadapan saya, ternyata bukan mangga melainkan kepala manusia kerdil yang tidak memiliki jasad, kepala itu saya pandangi, seketika dia tersenyum pandangannya tajam memancarkan aura merah, saya terdiam seribu bahasa bagaikan terhipnotis seluruh persendianku kaku di buatnya” Lanjutnya.

“Sayapun meletakkan kepala itu ke tanah dan tiba-tiba berguling lalu lenyap di tengah kegelapan malam. Pengalaman ini tidak pernah menjadi sebuah perenungan buat saya, sebab mungkin ketika itu masih kanak-kanak.Setelah sedikit mempelajari ilmu keghaiban saat dewasa,barulah saya mengerti bahwa ketika itu yang saya temui adalah mahluk ghaib yang mendiami kampung setan.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya,apa yang saya alami sudah 35 tahun berlalu,baru sekarang tergerak hati saya kembali menyusuri misteri di balik pengalaman masa kecil dulu” Kenang Asbar menutup kisah masa kecilnya.

Beberapa warga setempat yang ditemui Mitos dan menanyakan prihal penamaan kampung setan yang menarik untuk diketahui pembaca mitos.

Puang katang (70 th) salah satunya yang banyak tahu,sekaligus berfrofesi sebagai dukun kampung yang sering dimintai bantuannya jika ada warga yang kesurupan jin atau ruh-ruh gentayangan.Menurut keterangan yang kami peroleh,bahwa tidak ada yang mengetahui dengan pasti sejak kapan adanya penamaan kampung setan itu,yang jelas katanya dahulu kala ada warga yang sempat melihat rombongan wanita cantik berpakaian serba kuning menurungi bukit menuju sebuah sumur tua yang adanya di tepi hutan kampung. Setelah mereka semua tiba di sumur seketika lalu lenyap entah ke mana perginya, saat itulah masyarakat menamainya sumur setan yang adanya di kampung setan.

“Bahwa ada salah seorang warga yang sakrat di akibatkan oleh ulah jin yang mendiami kampung itu,hanya disebabkan orang tuanya pernah menebang pohon besar yang merupakan tempat tinggal jin di sekitar halaman rumahnya.beruntung berkat pertolongan Allah akhirnya orang itu dapat di sembuhkan” Ujar Puang Katang ketika ditemui oleh Wartawan Mitos dikediaman anaknya. Pada malam harinya Dia bermimpi bertemu dengan dua orang wanita mengenakan mukena berjalan menuju Masjid.

Wanita itu lalu menyapa Puang Katang dengan nada menampakkan kebencian, katanya: “ seandainya kamu tidak mengobati Asri [nama anak yang sakit], kami sudah membunuhnya, tapi kali ini hanya peringatan buat siapa saja yang sewenang-wenang menebang pohon tanpa terlebih dahulu meminta izin”.

Lanjut katanya: “kalau kalian mau menebang pohon,minta izin dengan cara menyandarkan sebuah kapak yang di letakkan pada pohon yang akan di tebang cara terbalik, artinya tajamnya bersandar pada pohon dan pemegangnya di bawah, lalu berdoa dengan menyebut nama Allah serta bershalawat kepada baginda Rasulullah mohon kiranya penghuni pohon ini dapat di pindahkan ke tempat yang jauh dan tidak mengganggu, setelah itu biarkan kapak itu sampai semalam. Keesokan harinya jika kapaknya rebah, itu pertanda permintaan di kabulkan dan silahkan di tebang. Kalau tidak , jangan di lanjutkan sebab dapat mendatangkan musibah bagi yang menebangnya” Tegas wanita itu memberikan peringatan kepada Puang Katang.

Lain halnya yang di alami Suke salah seorang warga yang memiliki sebuah kebun letaknya tidak jauh dari sumur setan. “Ketika itu jam 12 siang, Saya lagi beraktifitas di kebunnya tiba-tiba di melihat sosok wanita cantik berpakaian kuning berjalan mendekatinya, dengan perasaan takut tanpa pikir panjang Saya langsung mengambil langkah seribu berlari meninggalkan semua peralatan yang ku bawa dan anehnya wanita itu terus mengejarku. Sampai di rumahku, wanita itu menghilang” Ujar Suke Kepada Wartawan Mitos.
Sejak peristiwa itu Suke tidak lagi berani bekerja di kebunnya seorang diri.

Dari berbagai sumber yang mitos temukan, pada kesimpulannya kampung setan umumnya di huni jenis jin yang mayoritas berjenis kelamin wanita, dan memiliki seorang Ratu. Dahulu kala sampai saat ini umumnya masyarakat pedesaan ,ketika menemukan hal-hal yang bersifat ghaib di katakannya setan. Padahal penamaan Syethan dalam konsep ajaran Agama Islam adalah jenis mahl uk Ghaib ciptaan Allah yang tidak dapat terlihat dengan pandangan mata biasa, tetapi dengan menggunakan pandangan mata bathin, mahluk dari golongan bangsa jin yang punya prilaku buruk.Tidak semua jenis jin buruk,seperti halnya bangsa manusia. Kalaupun ada manusia yang punya masalah dengan jin,itu di akibatkan oleh ulah manusia itu sendiri karena tidak memahami aturan-aturan hidup dunia jin.(jabbar)


majalah MITOS

Senin, 12 September 2011

Tapa ledhek diyakini memudahkan jadi biduan

Fungsi spiritual di Goa Kiskeno sendiri memiliki banyak tujuan. Pertapaan Ledhek diyakini dapat memudahkan jalan bagi seorang yang berkeinginan menjadi seorang biduan seperti penyanyi dan penari. Pertapaan Santri Tani diyakini dapat memberikan kemakmuran bagi petani yang sedang menggarap sawahnya.

Masuk ke dalam cabang goa di tengah, sampai ke pertapaan Kusuma. Pertapaaan ini di yakini dapat mewujudkan keinginan mendapatkan ketentraman hati, keselamatan, atau kemudahan untuk memperoleh jabatan. Konon Raja Mataram Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah menyendiri di tempat ini.

Menurut Adi sampai saat ini masih banyak para peziarah yang melakukan ritual pertapaan di tempat ini, pada tanggal-tanggal tertentu seperti Senin Legi dan Jumat Kliwon. Terlihat dengan banyaknya sesaji, bekas digunakan orang-orang yang melakukan 'laku prihatin'.

Masuk lebih ke dalam lagi, akan mendapati air terjun padasan yang berbentuk seperti lidah ular. Air yang berasal dari resapan air hujan ini walaupun musim kemarau sekalipun tidak pernah akan kering. Alirannya yang mengalir keluar objek wisata Goa Kiskendo ini, tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Jatimulyo tapi juga oleh warga Kaligesing Purworejo yang letaknya berbatasan.

Untuk menelusuri seluruh bagian goa secara detil memerlukan kurang lebih dua jam. Selama di tempat ini juga berlaku larangan-larangan yang mengandung mitos. Bilamana ada penghuni masuk, tidak boleh buang air, makan minum atau mengejek bagian manapun dari goa. Adi mengungkapakan walaupun itu hanya mitos namun dengan adanya pantangan itu menjadikan lingkungan goa tetap terjaga.

“Percaya atau tidak tapi mitos itu mampu membuat pengunjung takut membuang sampah atau merusak bagian dari goa yang semua terbentuk oleh alam,” kata Adi terkekeh.

Secara utuh penampilan Goa Kiskendo di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, lebih kurang 38 km dari kota Jogja atau kira-kira 21 km dari kota Wates itu, lebih prima ketimbang objek wisata goa lainnya di Kulonprogo. Kondisi goa sudah berlampu listrik, selain itu mulai direncanakan pembangunan taman yang rencananya sebagai area pengembangan anggrek putih asli Kulonprogo.

Goa Kiskendo yang menempati area seluas 5 hektare ini merupakan salah satu lokasi yang merupakan bagian dari jalinan legenda cerita Ramayana selain tempat wisata lain seperti Suroloyo, Gunungkelir, Watu Blencong, Kayangan dan Jonggrangan.

Setelah pemugaran Goa Kiskendo pada 1981, untuk meningkatkan daya tarik wisata dibuatlah rangkaian cerita Ramayana mengenai objek-objek wisata di Kulonprogo sehingga terlihat seperti ada keterkaitan cerita di antara tempat-tempat wisata tersebut dengan tujuan promosi.

Jalinan kisah-kisah Ramayana itu tertuang dalam bentuk relief yang menghiasi sepanjang pelataran taman yang mengantar menuju pintu masuk Goa Kiskendo. Adalah Joni, seorang seniman dari Akademi Seni Rupa Indonesia Jogja yang merangkai kisah-kisah itu dan membangun relief Goa Kiskendo pada 1982 hingga 1983.(Victor Mahrizal)

Selasa, 20 Januari 2009 10:05:31

Keris tak semuanya mistis

Mendengar nama keris langsung  muncul di benak kita adalah sebuah kengerian atau sesuatu yang berbau mistis. Memang tak selamanya salah ada  anggapan itu,  memang dulunya keris digunakan oleh raja-raja sebagai sebuah pusaka. Sejak zaman kerajaan Budha pun , keris sudah mulai digunakan. Tak hanya punya nilai spiritual saja, justru bentuk karya seninya-lah yang menjadikannya sebagai sebuah benda koleksi.

Nilai sebuah keris terletak pada keindahan bentuk, bahan yang dipakai, serta proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan khusus.Ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus.  Untuk pegangan misalnya dalam keris Jawa terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan), weteng dan bungkul. Wrangka atau sarung kerisnya pun juga unik seperti  jenis wrangka ladrang yang terdiri dari dari  angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar  serta cangkring.

Keindahan keris inilah yang kemudian memotivasi Rahadi Saptata Abra seorang kolektor keris untuk menyimpan benda-benda ini. “Keris itu adalah salah satu jenis tradisi adiluhung Indonesia yang patut dilesatarikan,” paparnya, kepada Harian Jogja.

Abra menjelaskan bahwa ada 3 hal penting dalam keris mengapa punyai nilai keindahan tertentu diantaranya karena keris terdiri dari tangguh (style), dapur (kombinasi dari detail keris), serta pamor (motif gambar).

Hobinya mengoleksi keris dimulainya sejak tahun 1994. Hingga saat ini koleksinya sudah  mencapai 150-an bahkan lebih. Bagi Abra, sapaan akrabnya mengoleksi keris adalah hal yang menyenangkan. Lebih lagi kalau berburu keris, rasanya adalah sebuah rekreasi  yang menantang dan menggairahkan. Pernah dia menceritakan, hanya mencari warangka  kerisnya dia membutuhkan  seharian waktu untuk mencarinya. Berbagai perajin didatanginya dan ketika ia berhasil mendapatnya, perasaan lega pun langsung terpancar.
Sepertinya kemistisan keris yang menjadi mitos bagi sebagaian orang tak membuat Abra menghentikan hobinya ini. “Memang keris tak lepas dari nilai spiritual, namun setiap keris selalu diciptakan oleh pembuatnya untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi supaya omongan selalu dipercaya orang, menambah kewibawaan, memperoleh rezeki, dan sebagainya,”paparnya.

Memang tak salah dengan apa yang diomongkan oleh Abra. Inilah yang kemudian tercermin dalam filosofi keris yang mulai berubah dari zaman ke zaman. Dari Kerajaan Singosari sampai Mataran Sultan Agung, keris sudah diposisikan sebagai benda muliti fungsi dan multi makna. Kadang kita temui keris yang dianggap sebagai “sikep” atau “piyandel”, ada yang digunakan sebagai senjata pamungkas, dan juga sebagai “sengkalan” atau pertanda atas suatu kejadian penting.

Tak hanya itu, dalam sebuah filosofi Jawa ada sebuah anggapan yang berlaku bahwa seseorang baru bisa dianggap paripurna jika sudah memiliki lima unsur simbolik yaitu curiga (keris), turangga (kuda/kendaraan), wanita (istri), dan kukila (burung).Secara simbolik, curiga atau keris bermakna   kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara.

Mungkin filosofi Jawa inilah yang sampai sekarang melekat pada diri Adam, seorang kolektor keris lainnya yang sudah 28 tahun mengoleksi keris. Sampai dengan saat ini koleksi banyak yang sudah terjual dan saat ini hanya tersisa150 buah keris. Diakuinya bahwa keris adalah warisan leluhurnya, dan kecintaannya mengoleksi keris adalah untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung serta untuk investasi pribadi. Senada juga dengan pernyataan Abra, bahwa keinginannya mengoleksi keris ini juga menjadi simbol status bagi dirinya yang kebetulan menganut kebudayaan Jawa.

“Keris memiliki nilai spiritual yang tinggi dan memiliki seni keindahan yang sungguh sangat unik. Jika kita bisa menghayatinya dengan rasa yang mendalam, keris mempunyai energi yang berbeda dibandingkan benda yang lain,”papar Wibby Mahardhika, seorang pecinta keris lain. Dia menambahkan bahwa semua benda yang diciptakan untuk satu niat yang khusus akan dapat bertransformasi dengan baik pada pemiliknya.

Cara memperoleh keris
Bagaimana ya cara mendapatkan keris?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu terbesit dalam benak orang awam ketika berhadapan dengan kolektor ataupun pecinta keris. Apakah harus bersemedi terlebih dahulu, atau ada gerai khusus yang menjual?

Mendapatkan keris memang tak mudah. Keris bukanlah hal yang mudah untuk diperdagangkan apalagi jenisnya keris asli. Berdasarkan penuturan Abra, dirinya selalu diberi informasi lewat telepon bila ada jenis yang baru. Pengayuh itulah sebutan bagi orang yang menjual keris.

Tukar menukar dengan kolektor lain juga menjadi salah satu cara mendapatkan keris. Biasanya bisa perorangan lewat komunitas. Kalau di Jogja ini salah satu komunitas keris yang sering melakukan kegiatan ini adalah komunitas keris Pametri Wiji. Dan jangan khawatir bahwa pemindahan keris dari tangan orang lain tidak membutuhkan tradisi sendiri. “Yang penting itu adalah memperlakukan keris dengan baik meski itu bukan asli milik kita,”papar Wibby.

Ternyata ada uniknya cara mendapatkan zaman sekarang dan zaman dulu. Pada zaman sekarang, untuk mendapatkan keris selalu ditukarkan dengan uang. Berbeda dengan zaman dulu, keris bisa didapatkan dengan menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan rumah, seperti hewan peliharaan, atau perabotan rumah. “Dulu itu untuk mendapatkan keris, sapi pun bisa diberikan pada pemilik keris,” papar Adam. Perlu diketahui tradisi membeli atau menukar  keris ini sering disebut memaskawinkan.

Harga keris pun juga tidak bisa dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah, dan harga tergantung dari seni keris sendiri. Semakin detail pembuatannya, langka bahannya, tentunya harganya bisa melambung tinggi. Lebih lagi jika membeli keris secara langsung dari pemiliknya atau sang Empu, dijamin harganya juga tak murah. Dan bagi kolektor keris, keaslian keris yang lebih diutamakan.

Keaslian atau keorisinilanlah yang menjadi pedoman bagi Abra dalam membeli keris. Baginya, untuk membeli sebuah keris bukanlah hal yang mudah. Mungkin bagi orang awam, semua keris yang dijual di pasaran adalah sama, namun berbeda dengan seorang kolektor yang tahu tentang detailnya.
“Keris yang akan saya beli itu harus digarap dengan bagus artinya harus utuh dan tidak cacat. Karena bila ada bagian yang hilang akan mengurangi nilainya. Selain itu dari harga pun juga akan saya perhitungkan,”ungkapnya.

Perawatan Keris
Menjadi sebuah seni yang indah serta memiliki multi fungsi dan makna, membuat keris harus diperlakukan dengan baik dan tidak sembarangan. Sasi sura dalam penanggalan Jawa memang menjadi asumsi orang bahwa hari itulah saatnya orang memandikan keris atau disebut dengan penjamasan/ diwarangi.

Namun pendapat itu tak semestinya benar bagi Adam. Baginya bila setiap Sura keris dimandikan justru malah membuat bahan penyusun keris semakin tipis. Oleh karena itu, biasanya setiap 3 hingga 6 bulan sekali, Adam selalu meminyaki kerisnya supaya lebih awet.  “Tidak mesti setiap Sura keris harus dimadikan, yang penting keris harus rutin dijaga dan dirawat,”paparnya.

Berbeda dengan Abra, yang setiap tahunnya selalu memandikan kerisnya pada saat sasi Sura. Dia pun tak berani memandikan sendiri kerisnya karena memandikan keris membutuhkan cara tersendiri. Baru setelah itulah, dalam tahap meminyaki keris, dirinya selalu melakukannya sendiri dengan menggunakan minyak cendana. “Semakin lama diminyaki maka keris akan semakin bagus.Intinya perawatan keris itu adalah  mencegah supaya  keris tidak  mengalami korosi,”paparnya.

Meski hanya benda mati, namun keris membutuhkan kasih sayang tersendiri. Keris dan pemilik ibaratnya adalah sepasang suami-istri yang harus saling memahami.
Oleh Olivia Lewi Pramesti


Sabtu, 10 Januari 2009 15:47:36

Rabu, 10 Agustus 2011

CERITA LEGENDA,RaWa PeNiNg



# SIBOCAH YANG MERUPAKAN PENJELMAAN DARI BARU KLINTHING,




AKIRNYA MENCABUT LIDI YANG DITANCAPKANNYA SENDIRI,SEHINGGA




MEMANCARLAH AIR YANG JERNIH DAN MENENGGELAMKAN BEBERAPA




DESA DISEKITARNYA........................(disalin dari majalah Misteri: 518 - o5 agts-19agts-2011)





Berkisah dizaman dahulu kala,terdapat seekor ular naga raksasa yang bernama baru klinthing.
Menurut tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.sebenarnya,ular tersebut adalah putra dari pertapa sakti....karena kuatnya cipta karsanya sang pertapa kala membuat keris pesanan sang raja,tanpa sadar,waktu berhubungan badan dengan istrinya cipta seekor naga tetap terpatri didalam ingatanya .Akibatnya,ketika waktunya tiba,yang lahir bukanlah seorang jabang bayi,melainkan seekor ular.

waktu terus berlalu....sianak yang berwujud ular raksasa itu datang menemui ayahnya untuk meminta pengakuan,"kalau engkau benar-benar anaku,Buktikan badanmu bisa milit gunung telomoyo dan gajahmungkur,"ujar sang pertapa sambil mennunjuk gunung yang dimaksud.
" mohon pangestu Romo,"ujar siular tersebut

Dengan serta merta,baru klinthingpun melaksanakan apa yang di pinta oleh ayahnya,Dan benar,badanya nyaris berhasil mengelilingi ke dua gunung yang di tunjuk oleh sang ayah.
"Engkau mamang bukan anaku",ujar sang pertapa.
"Romo...tunggu,bolehkah aku menjulurkan lidahku?"Sahut Baru klinthing meminta persetujuan sang ayah.
Agaknya sang pertapa tak mampu berbuat,apapun kecuali hanya mengangguk dengan wajah sedih.sedih...karena harus mengakui seekor ular yang bernama Baru klinthing sebagai anaknya.Tanpa banyak bertanya,ular itupun langsung menjulurkan lidahnya,Akhirnya,kepalanya berhasil menyantuh ekornya sesuai dengan persyaratan sang ayah
"Tetapi ada daya,sang pertapa bukanya senang melihat kecerdikan sang anak.ia marah bahkan memotong lidah yang menjulur di depanya.
Ajaib ...lidah itu sontak berubah menjadi sebilah mata tombak yang termat sakti,konon,inilah tombak kanjeng kayi baru klinthing yang pernah menjadi di miliki oleh kyai ageng mangir wanabaya yang legendaris itu.
"Baik...enkau ku akui sebagai anaku.Tetapi,agar tidak menghebohkan,bertapalah engkau dengan cara seperti ini sampai aku datang atau maemanggilmu",demikian ujar sang pertapa sambil berlalu dengan guntai.Dalam hati kecil,sejatinya,sang pertapa menyesal dengan apa yang baru saja di lakukan terhadap anak kandungnya.
Tapi apa daya...nasi telah menjadi bubur!
Hati berganti minggu,minggupun berganti bulan dan tahun pun terus berlalu.perlahan tetapi pasti,tubuh baru klinthing pun di tutupi oleh tanah.Hingga pada suatu hari,sekumpulan penduduk yang tengah beristirahat di sekitar sawah suatu desa memotong gambir di atas galengan(pematang sawah-Jw)...cres...dan memancarlah darah segar dari tubuh baru klinthing yang oleh penduduk selama ini di anggap sebagai pematang sawah.
Semuanya terkejut!Mereka langsung saja menggali dan memotong tubuh baru klinthing,sluruh masyarakat desa pun berpesta!
Kiranya Dewa berkehendak lain.Nyawa baru klinthing menjelma menjadi seorang bocah buruk rupa yang mendatangi rumah penduduk untuk meminta belas kasihan.Tetapi apa daya,penduduk yang sedang berpesta.
"Hai...bocah jelek,kotor,pergi sana...!"
Demikian sergah penduduk yang di datangi rumahnya atau di temui di jalan.
PenderitaanBaru klinthing ternyta tak berhenti di situ,sekumpulan anak-anak sebayanya bahkan melempari tubuhnya dengan batu sambil bernyanyi,"Gembel kotor ...gembel kotor...bau...!
HArii BERGANTI MINGGU,MINGGU PUN BERGANTI BULAN DAN TAHUN PUN TERUS BERLALU.PERLAHAN TETAPI PASTI,TUBUH BARU KLINTHING PUN DITUTUPI OLEH TANAH.HINGGA PADA SUATU HARI,SEKUMPULAN PENDUDUK YANG TENGAH BERISTIRAHAT DI SEKITAR SAWAH SUATU DESA MEMOTONG GAMBIR DI ATAS GALENGAN (PEMATANG SAWAH-JW)...CRES...DAN MANCARLAH DARAH SEGAR DARI TUBUH BARU KLINTHING YANG OLEH PENDUDUK SELAMA INI DIANGGAP SEBAGAI PEMATANG SAWAH.SEMUANYA TERKEJUT!MEREKA LANGSUNG SAJA MENGGALI DAN MEMOTONG TUBUH BARU KLIINTHING,SELURUH MASYARAKAT DESA PUN BERPESTA!
Dengan langkah gontai sambil menahan pilu dan pedih diu sekujur tubuhnya, Baru klinthing terus saja berjalan hingga ia bertemu seorang nenek yang baik hati. "Bocah...aku hanya punya ini.Makanlah..."ujarnya sambil memberikan sepotong ketela rebus dan tempurung berisi air.
"Terima kasih nek",sahut Baru klinthing yang langsung melahapnya dengan rakus.sementara,sang nenek hanya melihatnya dengan pandangan sendu.ia benar-benar sedih melihat penderitaan baru klinthing,tetetapi apa daya,ia sendiri seorang yang papa.
Ketika tenaganya telah di rasa pulih,Baru klinthing pun meminta diri sambil berpesan kepada sang nenek ,"Nek...jika nanti datang banjir naiklah ke lesung dan kayuhlah dengan centhong (alat untuk mengambil nasi-Jw)".
"Bocah...engkau hendak kemana?"
Tanya sang nenek dengan nada khawatir.
Aku akan ke alun-alun untuk melihat keramaian,sahut Baru klinthing sambil berlalu.setibanya di alun-alun ,hati Baru klinthing sedikit terhibur melihat banyaknya pertunjukan di sana.Hingga pada suatu saat ,dengan tenang menancapkan sebatang lidi di tengahalun-alun sambil berteriak,"siapa yang merasa bertenaga besar,silakan cabut lidi ini!.

mendengar tangtangan itu,seorang yang berbadan tegap dpun langsung mendatangi.
setelah sebelumnya mendorong tubuh baru klinthing hingga terhuyung hampir jatuh,"minggir biocah gembel !"dengan langkah pasti ia mendatangi lidi yang tertancap itu dan mencabutnya,tetapi apa yang terjadi walau berulang kali dicoba tetapi lidi itu tak bergeming.
hore....hore...hore...."demikian teriak orang-orang memberi semangat sembari mencemooh,dan ahkirnya lelaki tegap itu pergi meninggalkan alun-alun.
singkat cerita,karena tak ada yang mampu mencabut lidi tersebut,sibocah gembel yang tak lain penjelmaan baru klinthingpun mendekati lidi tersebut sambil berkata jika tak ada yang berani mencoba lagi maka aku sendiri yang akan mencabutnya.

serta merta terdengarlah suara menyemangati sibocah untuk segera mencabutnya.....cabut....cabut....cabut,dengan mencabsatu tangan,baru klintingpun nymencabut lidi yang di tancapkannya sendiri,dengan sekali hentak,lidi itupun tercabut dari tanah.saking kerasya lidi beserta tanahnya terpental jauh hingga menjadi gunung yang dikenal dengan sebutan kendali sodo kemudian dari lubang bekas cabutan lidi memancar air yang jernih yang kian lama kian deras dan akirnya menggenangi seluruh desa yang berada dilereng gunung telomoyo,dan gajah mungkur.

tak ada yang selamat selain baru klinthing,dan sang nenek yang pernah menolongnya itu dan genangan air yang menghampar begitu luas itu akhirnya dikenal dengan sebutan rawa pening.
demikian legenda baru klinthing menyisakan hikmah kepada kita semua betapa baiknya hidup tolong-menolong tanpa pamrih terhadap sesama,akan membuahkan kenikmatan.

di salin oleh : mateus heryprasetyo