Tampilkan postingan dengan label wisata alam dijogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata alam dijogja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Mei 2015

Indahnya Air Terjun Pantai Joga

WONOSARI(KRjogja.com)-  Bak jamur di musim penghujan. Obyek wisata (Obwis) di Gunungkidul terus bermunculan.  Satu lagi, masyarakat menemukan air terjun di bibir pantai Jogan, Dusun Winangun, Desa Purwodadi Kecamatan Tepus. Lokasinya diantara Pantai Siung dengan Pantai Ulang Sawal (Indrayanti).

Jaraknya dari kota Kecamatan Tepus sekitar 7 Km atau 23 km dari Kota Wonosari. “Beberapa wisatawan sudah mulai mengunjungi obyek wisata ini,” kata Suwito, warga setempat, Selasa (28/04/2015).
Kondisi pantainya tidak banyak berbeda dengan pantai wisata yang lain. Keunggulannya di teluk kecil terdapat air terjun dengan ketinggian sekitar 7 mater, lebar sekitar 20 meter. Ketika gelombang surut wisatawan dapat bermain air dan berselfi digerojokan sungai Mandel ini. Gelombang pasang di pantai ini hanya sekitar 2 jam siang hari (jam 11.00 sampai jam 13.00) malam setelah pukul 21.00. “Selebihnya airnya surut,” tambahnya.

Wisatawan untuk menuju Air terjun ini tidak sulit. Arahnya ke jalur pantai Siung, sampai simpang tiga menyusur jalan cor blok halus sekitar 2 km. Hambatannya jika berpapasan dengan kendaran roda empat masih harus mencari posisi agar dapat berpapasan tanpa harus bergesekan.

“Jalannya masih sempit, tetapi ada beberapa ruas jalan yang dapat digunakan untuk berpapasan,” ujar Suwito yang sehari-harinya mencari udang di pantai Jogan. (Ewi)

Senin, 26 November 2012

Pesona Kealamian Pantai Pok Tunggal

GUNUNGKIDUL (KRjogja.com) - Jajaran kawasan pantai Selatan di Gunungkidul selalu menawarkan keindahannya tersendiri, kali ini salah satu pantai yang tidak bisa dilewatkan untuk berwisata yaitu Pantai Pok Tunggal, Tepus Gunungkidul. Pantai berpasir putih ini menawarkan pemandangan pantai landai dengan berbagai kegiatan yang bisa dihabiskan bersama sanak keluarga, sahabat, teman maupun rekan kerja.

Pengelola pantai Pok Tunggal, Dhiana Puspitasari mengatakan pantai ini baru dikelola dan bisa di akses untuk tempat wisata sejak Mei 2012 lalu dengan menempuh perjalanan lebih dari 50 kilometer dari Wonosari Gunungkidul atau selama 45 menit dan 2 jam perjalanan dari Kota Yogyakarta.

"Sejak awal pantai ini dikonsepkan agar para pengunjung dapat menikmati keindahan pantai dari matahari terbit hingga terbenam seperti layaknya pantai pribadi atau private beach , namun kini dalam perkembangnnya pantai ini mulai dipadati pengunjung terutama yang ingin melakukan aktivitas di pantai sembari menghabiskan malam," ujarnya di Pantai Pok Tunggal, Sabtu (27/10)

Lebih lanjut Dhiana mengungkapkan nama Pantai Pok Tunggal merupakan nama pemberiaan warga setempat karena pantai ini mempunyai sebuah pohon besar yang hingga kini masih berdiri kokoh di Pok Tunggal. Pohon inilah yang menjadi pohon ikonik pantai tersebut dan menambah keunikan tersendiri tentunya.

Dhiana menjelaskan potensi yang ditawarkan pantai landai berpasir putih yang menjadi ladang rumput laut bagi masyarakat sekitar ini selain dapat digunakan untuk bersantai menikmati pemandangan, dapat digunakan untuk olah raga pantai seperti volley pantai, treing ke tebing, spektakuler sunset, makan malam romnatis di tepi pantai, pesta ikan bakar dan lobster, menginap di pantai dengan tenda dan lain-lain.

"Kami memang tidak membangun tempat menginap khusus karena kami ingin agar wisatawan yang menginap menggunaan tenda yang tentunya telah kami sediakan dan menyatu dengan alam," katanya.

Mengenai paket menginap ini ditawarkan dengan harga Rp. 200.000/pax yang sudah termasul welcome drink, makan 2 kali untuk makan malam ikan bakar barbeque dan sarapan pagi,minum, snack, tenda, air bersih, toilet, parkir, keamanan dan pemandu wisata.

Meskipun rute menuju pantai Pok Tunggal sedikit menantang karena jalan yang dilalui masih belum di aspal, namun pantai tersebut sudah mempunyai fasilitas parkir, toilet, warung makan dan mushola yang dikelola masyarakat setempat.

"Kami selalu menghimbau pengunjung untuk membuang sampah pada kantong plasti yang telah kami sediakan karena kami benar-benar menjaga kebersihan pantai ini agar tidak merusak pemandangan dan lingkungan yang masih alami," pungkasnya. (Fir)

sumber kr jogja

Selasa, 11 September 2012

Desa Wisata Banjarasri Masuk 15 Besar Nasional

KALIBAWANG (KRjogja.com) - Desa Wisata Banjarasri Kecamatan Kalibawang masuk 15 besar nasional dalam lomba desa wisata tingkat nasional. Direncanakan Senin (3/9) mendatang desa tersebut akan ditinjau tim dari Kementerian Pariwisata.

Dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kulonprogo Eko Wisnu Wardana SE, potensi yang terdapat di desa wisata Banjarasri banyak. "Nanti yuri akan mengunjungi potensi-potensi yang terdapat di Desa Banjarasri tesebut, diantaranya tenun ATBM, makam, dolan ndeso (gejog, belajar tani, egrang), river tubing, serta home stay," kata Eko Wisnu Wardana, Jumat (31/8). 

Pihak Pemerintah Daerah (Pemkab) berharap potensi yang ada bisa terus dikembangkan dan dijaga. Sehingga dikemudian hari benar-benar bisa terjual dan menjadi potensi wisata andalan Kabupaten Kulonprogo. (Wid)

Pawonsari, Segitiga Baru Objek Wisata Alam

YOGYA (KRjogja.com) - Tiga kabupaten di tiga provinsi di DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu Pacitan, Wonogiri dan Wonosari membentuk sinergi promosi dunia pariwisata yang dikenal dengan Pawonsari. Pawonsari yang memiliki kesamaan geografis dan letaknya bedekatan satu sama lain diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan dan lama tinggalnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Tazbir Abdullah mengatakan Pawonsari ini merupakan sinergi 3 provinsi di Jawa yang memiliki kesamaan potensi wisata, yakni pantai dan goa karst. Sinergi ketiga kabupaten ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk bisa menikmati wisata alam dan petualangan dengan nuansa yang berbeda.

"Pawonsari akan berkembang terlebih dengan adanya jalur lintas selatan (JLS) yang masih dalam proses pembangunan. Dunia pariwisata di Pulau Jawa bisa merata dan tidak hanya didominasi wilayah tengah dan utara," ujarnya di Yogyakarta, Senin (10/9).

Tazbir mengungkapkan terlebih nanti di DIY akan memiliki bandara internasional dengan daya tampung yang sangat besar  sehingga DIY dapat menjadi pintu gerbang pariwisata benar-benar bisa terwujud yang juga bermanfaat daerah lainnya seperti Pacitan dan Wonogiri.

Bupati Pacitan Indartarto mengatakan berbagai kegiatan promosi terus dilakukan, baik di skala lokal, nasional dan internasional. Kabupaten paling selatan Jawa Timur ini memiliki banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan dan menarik wisatawan.

"Kita berdekatan dengan Wonogiri dan Yogyakarta, terlebih dari Yogyakarta kita mendapat limpahan wisatawan karena jarak tempuh hanya 3,5 jam sehingga membantu kunjungan wisatawan di kota tempat kelahiran Presiden SBY ini," ujarnya.

Indartarto pihaknya optimis jumlah wisatawan akan terus meningkat. Tahun 2012 ini saja, hingga bulan Agustus 2012 jumlah wisatawan sudah memenuhi dari yang ditargetkan yakni 576.000 kini sudah mencapai 590.000 orang.

"Dari jumlah wisatawan tersebut, 70 persen merupakan wisatawan domestik yang berasal dari Yogyakarta dan Solo.  Jadi kedua kota ini menjadi pintu gerbang wisatawan atau merupakan segitiga emas dengan potensi wisata karst dan pantai  yang bisa digali bersama," tambahnya.

Memiliki potensi wisata yang beragam, belum cukup bagi Kabupaten Pacitan, Jawa Timur untuk menjadi salah satu daerah tujuan wisata utama baik di Jatim maupun Indonesia. Masih dibutuhkan kerja keras dari semua pihak untuk terus mempromosikan, demikian juga dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas akomodasinya.

Menurutnya, potensi yang dimiliki Pacitan saat ini menjadi andalan sebagai daerah wisata antara lain alam yakni wisata goa yang kemudian daerah ini menjuluki sebagai Kota Seribu Goa, pantai, pemandian air hangat, monumen Jenderal Sudirman dan wisata spiritual. (Fir)

Menopang Pesona Indah Ratu Boko

SEBAGAI sebuah destinasi archaeotourism yang terkenal, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan surga untuk menjelajahi candi-candi kuno dan menemukan reruntuhan dari 'peradaban yang hilang serta misterius'. Candi dapat dikatakan adalah bukti yang tidak bernyawa namun dapat mengeluarkan kisahnya lewat setiap goresan yang ada di setiap relik-reliknya. Banyak orang tertarik dengan wisata candi karena nilai historis, arsitektur dan daya magisnya. Berlibur sambil menikmati wisata candi tentunya akan membuat momen liburan lebih berkesan.

Salah satu candi atau situs bersejarah yang kini menjadi perhatian warga DIY, Jawa Tengah dan wilayah lainnya adalah Ratu Boko. Ratu Boko kemungkinan dibangun sekitar abad 9 Masehi oleh Dinasti Syailendra, yang kelak mengambil alih Mataram Hindu. Sebagai sebuah monumen peninggalan zaman dahulu, Ratu Boko masih menyimpan misteri. Atribut-atribut yang terdapat di sini memang mengacu pada sebuah wilayah perkampungan. Tapi tetap saja para ahli masih sulit mengindentifikasikan, apakah ia merupakan taman kerajaan, istana, benteng, atau candi.

Candi Ratu Boko memang tidak seterkenal beberapa candi besar lainnya, seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur dan Candi Panataran. Meski demikian, candi yang terletak 3 Km dari Candi Prambanan ini tetap menyimpan beberapa sisi eksotis yang menarik untuk diperhatikan.

Komolekkan sang ratu boko yang tak kalah dengan kecantikan roro jonggrang, membuat bibir wisatawan tak henti-hentinya berdecak kagum. Kala berada didekatnya, kesejukkan serta keindahan yang terasa seolah membuat para pengunjung enggan untuk meninggalkannya. Namun dibalik itu semua, ia memiliki sifat angkuh yang tak bisa lepas dari jiwanya, ia berdiri tegak ditempat tinggi lebih tinggi dari roro jonggrang dan tetap mempertahankan molek serta keindahan tubuhnya yang tak lekang oleh waktu meski usianya tak lagi muda demi mempertahankan gelar sebagai sang ratu (boko).

Kompleks Ratu Boko mempunyai potensi ilmiah yang menarik dan dalam kondisi yang terbebaskan dari balutan mithologis sampai tercapai titik 'pencerahan' sehingga situs yang cukup kuno ini dapat jauh lebih terbuka untuk menguak sejarah politik yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya pada abad III-VIII atau bahkan lebih awal lagi.

Mengenal Ratu Boko Lebih Dekat

Menurut sejarah bangunan ini pertama kali ditemukan kembali oleh seorang arkeolog belanda yang bernama Van Boeckholzt pada tahun 1790. Baru seratus tahun kemudian dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton Van Ratoe Boko. Dari situs ini juga ditemukan sebuah prasasti yang berangka tahun 792 M yang menuliskan bahwa ada seorang tokoh yang bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran dan juga menyebut kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri wihara yang berarti wihara di atas bukit yang bebas dari bahaya. Rakai Panangkaran merupakan seorang agama budha yang dibuktikan dengan penemuan Arca Dyani Buddha, namun juga ditemukan pula unsur-unsur agama Hindu seperti lingga yoni, ganesha dan sebagainya. Dikompleks ini terdapat kawasan bekas gapura, paseban, kolam, keputren serta dua ceruk gua yang kemungkinan digunakan sebagai tepat semedi.

Ratu Boko memiliki 3 buah teras atau tingkat, yang masing-masing dipisahkan dengan dinding batu dan benteng. Untuk mencapai teras pertama, kita harus melewati sebuah gerbang besar yang dibangun dalam 2 tahap. Di sebelah barat teras ini terdapat sebuah benteng atau Candi Batu Kapur (Temple of Limestone). Dinamakan Candi Batu Kapur karena ia memang terbuat dari batu kapur. Jaraknya kira-kira 45 meter (m) dari gerbang pertama.

Teras kedua dan pertama dipisahkan oleh tembok andelit. Teras kedua ini dapat kita capai setelah melewati gerbang di paduraksa yang terdiri dari 3 pintu. Pintu yang lebih besar (Gerbang Utama) ada di tengah-tengah, diapit oleh dua buah gerbang yang lebih kecil.

Teras kedua dan ketiga di pisahkan oleh benteng batu kapur dan tembok andelit. Untuk masuk ke dalam teras ketiga, kita harus melewati 5 gerbang, dimana gerbang yang paling tengah lebih besar ukurannya bila dibandingkan dengan 4 gerbang lain yang mengapitnya.

Di teras ketiga (teras paling besar) lah terpusat sisa-sisa peninggalan. Di sini kita bisa menemukan antara lain Pendopo (Ruang Pertemuan). Pondasi pendopo ini berukuran panjang 20 m, lebar 20 m, dan tinggi 1,25 m, terletak di sebelah utara dari teras ini.

Sedangkan di sebelah selatan, kita akan menemukan pondasi Pringgitan, berukuran panjang 20 m, lebar 6 m, dan tinggi 1,25 m. Keduanya, pendopo dan pringgitan, dikelingi oleh sebuah pagar dengan panjang 40 m, lebar 36 m, dan tinggi 3 m. Pagar ini dilengkapi dengan 3 gerbang beratap di sebelah utara, selatan, dan di sebelah barat. Tiga buah tangga dibuat untuk mendaki sampai ke pondasi tersebut.

Di sebelah timur pendopo, terdapat Komplek Kolam Pemandian yang dikelilingi oleh pagar empat persegi panjang. Komplek ini terdiri dari 3 kelompok. Kelompok pertama, terdiri dari 3 buah kolam berbentuk persegi empat. Dua di antaranya memanjang dari utara sampai selatan, dan keduanya dipisahkan oleh sebuah gerbang. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari 8 kolam bundar yang dibagi dalam 3 baris. Di teras ini, kita juga bisa melihat sisa-sisa bangunan yang disebut Paseban (Ruang Resepsi) yang membujur dari utara ke selatan. Reruntuhan gerbang, pagar dan landaian juga terdapat di sini.

Selain itu, juga terdapat Keputren (Istana atau Tempat Tinggal Putri), dimana di dalamnya terdapat sebuah kolam persegi panjang berukuran 31 x 8 m2 yang dikelilingi oleh pagar. Pagar ini mempunyai 2 gerbang, masng-masing terletak di sebelah baratdaya dan timurlaut. Sekitar 60 m dari gerbang ini, kita bisa melihat reruntuhan batu-batuan, tapi kondisi lantainya masih baik. Dasarnya berbentuk bujur sangkar berukuran 20 x 20 m.

Selain tempat-tempat tersebut, masih banyak reruntuhan yang bisa kita temukan di Ratu Boko, misalnya saja reruntuhan Gua Laki-Laki (Male Cave) berukuran panjang 3,5 m, lebar 3 m, dan tinggi 1,5 m, serta sebuah gua yang berukuran lebih kecil lagi, Gua Perempuan (Female Cave).

Ratu Boko telah menghasilkan banyak sekali artefak, termasuk arca-arca, baik arca Hindu (Durga, Ganesha, Garuda, lingga, dan yoni), serta arca Buddha (tiga Dhyani Buddha yang belum selesai). Selain itu, juga ditemukan keramik dan beberapa prasasti. Salah satu prasasti yang ditemukan adalah prasasti Siwagraha. Prasasti ini menyebutkan peperangan antara Raja Balaputra dan Rakai Pikatan. Karena kalah perang, Balaputra melarikan diri dan membangun tempat pertahanan di atas kaki bukit Ratu Boko.

Di sana juga pernah ditemukan lima fragmen prasasti berhuruf Prenagari dan berbahasa Sansekerta, Walaupun tidak utuh, prasasti ini masih bisa dibaca. Isinya berkaitan dengan pendirian bangunan suci Awalokiteswara, salah satu Buddhisatwa dalam agama Buddha, khususnya aliran Mahayana. Dilihat dari bentuk hurufnya, prasasti-prasasti tersebut berasal dari abad ke-8 M.

Selain itu, juga ditemukan tiga prasasti berhuruf Jawa Kuno dalam bentuk Syair Sansekerta. Dua di antaranya memuat tahun 778 Saka atau 856 M, yang berisi pendirian lingga Kerttiwasa dan lingga Triyambaka atas perintah Raja Kumbhaya. Sedangkan prasasti satunya lagi berisi pendirian lingga atas perintah Raja Kalasodbhawa. Prasasti lain yang ditemukan di Ratu Boko adalah sebuah prasasti berbahasa Sansekerta-Jawa, dan sebuah inskripsi (tulisan singkat) pada lempengan emas.

Semburat Senja di Ratu Boko

Ratu boko yang berarti raja bangau, letaknya berada di atas ketinggian suatu bukit memberi nilai lebih pada setiap orang yang mengunjunginya. Selain memanjakan mata dan hati akan keindahan peradaban yang ditinggalkan pada masa silam, kita juga bisa menikmati keindahan kota yogyakarta bagian tenggara yang merupakan area lalu lintas penerbangan karena bandara adi sucipto tepat berada di sebelah baratnya, kemudian candi prambanan yang juga dapat terlihat dari gardu pandang disisi utara dan tidak ketinggalan gunung merapi yang menjulang tinggi di sebelah utara kota yogyakarta yang dipercaya sebagai tonggak awal dan berakhirnya peradaban di sekitar yogyakarta dan jawa tengah (mataram kuno) yang membuat mata dan hati makin tak jemu dengan semua yang disuguhkan.

Di balik misteri dan kesunyiannya, Candi Ratu Boko menyimpan keindahan tersendiri. Ketika senja datang, kita akan menikmati salah satu senja tercantik yang pernah ada. Keindahan semburat senja membentuk siluet candi yang tegas seolah membenamkan misteri begitu saja.

Pemandangan senja saat matahari terbenam dari atas kawasan Bukit Boko tak bisa dilukiskan dengan kata. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya.

Banyak yang mengatakan pemandangan senja di Istana Ratu Boko ini sangat indah, sehingga sayang jika dilewatkan begitu saja ketika kita berada di kawasan wisata tersebut. Dan inilah mungkin yang menjadi daya tarik paling mempesona dari Ratu Boko disamping keindahan situs dan tata letak. Karenanya, potensi yang telah ada dan terjaga ini hendaknya tetap ditopang juga dilestarikan untuk kepentingan Pariwisata, Ilmu Pengatahuan serta Seni dan Budaya. (Danar Widiyanto)

Minggu, 13 Mei 2012

Susur Kali Oyo Komplek Gua Pindul Tetap Mengasyikkan

MESKI sudah memasuki musim kemarau, menyusur Kali Oyo di Komplek Gua Pindul, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul tetap mengasyikan. Bahkan terasa lebih menantang, karena harus 'jumpalitan' melewati celah-celah bebatuan.

“Jarak lokasinya lebih pendek, tetapi waktu tempuhnya hampir sama, karena tidak secepat jika arusnya deras,” kata Siswanto dan Mbah Ireng Parno, salah satu pengunjung obyek wisata tersebut, Rabu (26/4) petang.

Sejak musim kemarau, kata Ketua Kelompok Sadar Wisata Gua Pindul Subagyo, wisatawan masuk dari sekitar tempuran sungai Oya dan Kali Branjang. Ini berbeda jika dibanding ketika musim penghujan penyusuran dimulai dari Dusun Kedungranti, Kecamatan Nglipar. Tetapi, arus deras dan aliran biasa mempunyai kelebihan masing-masing. Musim kemarau perjalanannya lambat. “Tetapi wisatawan dapat menyaksikan batuan tebing sungai yang indah,” tambahnya.

Di musim kemarau wisatawan tetap dapat merasakan derasnya air terjun yang mengalir dari Gua Pindul. Sehingga ketika melewati kawasan air terjun, ada sensasi tersendiri. Di tengah-tengah wisatawan meluncur dalam ban karet akan diguyur air deras, dan serasa kehilangan arah perjalan. “Ada juga yang berhenti untuk terjun ke sungai dari tebing sungai,” ujarnya.

Untuk menambah keramaian obyek wisata, kini sedang dirintis berbagai obyek wisata baru. Wisata Gua Pindul tak hanya memikat wisatawan domistik, tetapi sudah ribuan wisatawan asing mengunjungi obyek wisata di Dusun Gelaran ini. Sarana dan prasarana jalan juga terus diperbaiki.
"Ke depan obyek ini akan menjadi wisata unggulan di Gunungkidul," terang Subagyo. (Ewi)

CANDI SAMBISARI Ditemukan setelah Terkubur Material Vulkanik 960 Tahun

CANDI SAMBISARI terletak di Purwomartani, Kabupaten Sleman terbilang unik karena berada 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Selain itu memiliki arca Lingga-Yoni (kelamin) di bilik utamanya dan ditemukan pada tahun 1966 atau terkubur material vulkanik akibat erupsi Gunung Merapi pada Tahun 1006.

Awalnya, Sambisari ditemukan oleh petani setempat Karyoinangun secara tidak sengaja pada tahun 1966. Saat itu, mata cangkulnya membentur benda keras berupa batu yang terpendam di dalam tanah. Akhirnya diketahui bebatuan itu adalah reruntuhan candi.

Petugas tiket dan informasi Candi Sambisari, Basuki menjelaskan Balai Arkeologi Yogyakarta lalu melakukan penelitian dan penggelian. Hasilnya terdapat situs candi dan dinyatakan sebagai daerah Suaka Budaya.

"Proses selanjutnya penyusunan kembali reruntuhan menjadi Kompleks Candi utuh dan pada tahun 1987 dimulai rekonstruksi ulang termasuk pemugaran. Karena letaknya 6,5 meter di bawah tanah, maka disebut Candi Sambisari," ujarnya kepada KRjogja.com, Minggu (8/1/2012).

Sementara itu berdasarkan penelitian geologis, candi setinggi 6 meter terbenam material vulkanik erupsi Gunung Merapi tahun 1006. Candi Sambisari merupakan candi hindu abad 10 dan dianun oleh Raja dinasti Sanjaya karena memiliki arca Shiwa atau Bhatara Guru dalam pewayangan Jawa, menepati bilik utamanya.

Candi Sambisari merupakan Candi Hindu beraliran Syiwaistis dari abad ke X. Saat penggalian kompleks candi Sambisari juga ditemukan benda bersejarah lainnya. Misalnya perhiasan, tembikar, prasasti lempengan emas. Dari situ diperoleh prakiraan, bahwa Candi Sambisari
dibangun tahun 812-838 M, saat Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno diperintah Raja Rakai Garung dari Dinasti Syailendra.

Basuki menjelaskan candi terdiri embat bangunan yang dibattasi tembok mengelilinginya dengan total luas 50 x 48 meter. Bangunan candi utama yang terbesar memiliki ketinggian 7,5 meter dan berbentuk bujur sangkar yang berukuran 15,65 x 13,65m pada bagian bawah candinya. Pintu masuk ke dalam kompleks candi berada pada keempat sisi bujur sangkar dengan menuruni tangga.

Keunikan yang lain, candi ini tidak memiliki pilar penyangga, sehingga bagian dasarnya sekaligus berfungsi sebagai pilar penyangga candi. Di bagian ini terdapat selasar yang mengelilingi badan candi, dan memiliki 12 anak tangga. Pada bagian luar badan candi terdapat relung-relung untuk menaruh arca.

Yang masih ada kini adalah arca Durga di sebelah utara, Ganesha di sisi timur, dan arca Agastya di bagian selatan. Dua relung lain yang ada di kanan dan kiri pintu, untuk patung dewa penjaga pintu, yaitu Mahakala dan Nadisywara. Sayang kedua patung itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Sementara patung lingga dan yoni terdapat pada bilik di dalam badan candi tersebut.

"Tiket masuk menikmati karya agung leluhur ini, yakni Rp. 2000 untuk dewasa, dan Rp. 1000 untuk anak-anak," tandasnya. (Denny Hermawan)

Menikmati Pesona Lereng Merapi Dengan Jeep Wisata

SLEMAN (KRjogja.com) - Pesona Gunung Merapi tetap memikat dan mempunyai magnet tersendiri bagi wisatawan pasca erupsi Merapi dua tahun silam, hal inilah yang kini dikelola warga sekitar untuk mempopulerkan wisata minat khusus yang menantang andrenalin dengan jeep. Salah satu pengelola wisata ini adalah Kaliurang Jeep Community (KJC) yang menyediakan fasilitas transportasi jeep untuk wisata lahar Merapi atau lava tour di kawasan lereng Gunung Merapi

Wisata minat khusus ini hampir setiap hari selalu ada wisatawan yang menikmati sisa-sisa kedahsyatan gunung teraktif di Indonesia itu. Guna mencoba tren baru tersebut, sejumlah awak media yang difasilitasi Hotel Griya Persada dan dipandu KJC menikmati keindahan Merapi dengan mengendarai jeep.

Ketua KJC, Riswanto Nugroho mengatakan wisata ini muncul karena medan yang dilalui cukup berat. Untuk melewatinya harus menggunakan kendaraan yang mumpuni seperti jeep dimana wisatawan akan disuguhi kawasan pedesaan yang kawasan lereng merapi yang sudah tertimbun lahar Merapi dan batu-batuan vukanik yang kini mulai sedikit hijau.

"Peluang ini kita tangkap untuk munculkan wisata baru. Hasilnya memuaskan, banyak wisatawan memanfaatkannya. Hampir setiap hari kita mengantar, bahkan di akhir pekan semua armada bisa terpakai, Kami menyediakan 25 jeep berikut dengan sopirnya yang kami organisir sejak tahun 2010 yang semula hanya ada 3 jeep” ujarnya di Jalan Boyong Kaliurang Sleman, Minggu (22/1).

Riswanto menjelaskan untuk dapat menikmati layanan ini, wisatawan harus merogoh kocek Rp 250 ribu untuk paket standar dan Rp 450 ribu untuk paket jauh. Rute paket standar menempuh jarak sekitar 20 kilometer selama 2 jam melalui Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan yang sudah rata dengan material vulkanik.

Untuk paket jauh, jarak tempuh sekitar 30 kilometer menelusuri Bronggang, Argomulyo. Lokasi itu merupakan Kali Gendol yang sudah dikeruk pasirnya. Kemudian wisatawan dibawa ziarah ke makam Mbah Maridjan di Srunen, Glagaharjo lalu kembali ke taman wisata Kaliurang.

Salah seorang peserta tour jeep, Deviana mengatakan sisa-sisa erupsi itu bisa dinikmati sebagai pemandangan alam yang luar biasa. Ditambah lagi jika cuaca cerah Gunung Merapi terlihat gagah dan sangat indah.

"Menikmati pemandangan Gunung Merapi kini sungguh mempesona terutama dengan fasilitas kendaraan jeep yang cocok untuk melalui medan-medan cukup terjal dan jalan yang sudah rata dan penuh bebatuan besar sisa erupsi Merapi. Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk wisata dengan jeep ini,” katanya.

Ditambahkan dengan peserta jeep tour Merapi lainnya, Astuti yang baru pertama kalinya merasakan wisata ini merasakan pengalaman berbeda menyusuri kawasan Merapi karena kondisi saat ini berbeda dari saat sebelum bencana alam melanda.

"Saya ingi tahu sekarang Merapi seperti apa pasca erupsi dua tahun lalu. Meskipun bisa ditempuh dengan kendaraan sendiri namun perjalanan lebih berkesan dengan jeep karena kita diajak dan dikenalkan lagi daerah-daerah yang sudah tertimbun rata pasir ini," pungkasnya. (Fir)